HARMONI KECINTAAN ANAK PADA SOSOK IBUNYA DALAM PUISI “IBU” KARYA D. ZAWAWI IMRON
OLEH : PRAMITA JAYA E. T (072144004)
Ibu
kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur - sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mata air airmatamu ibu , yang tetap lancar mangalir
bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari - sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku disini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan - lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau ikut uian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang akan ku sebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu
bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku
1966
Analisis Makna
Judul : Ibu, bermakna seorang wanita yang telah mengandung, menyusui, mendidik, dan membesarkan anaknya. Hal ini diperkuat dalam bait ke-2, yaitu pada syair ‘sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku dan lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar’.
Bait I
• kalau aku merantau : seorang anak berandai-andai, jika ia pergi merantau, jauh dari ibunya.
• lalu datang musim kemarau : dalam masa merantaunya, si anak kemudian dihadapkan pada sebuah tantangan dan cobaan hidup di perantauan.
• sumur - sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting : penggambaran betapa sulitnya tantangan dan cobaan hidup yang dialami si anak dalam masa merantaunya, sehingga diibaratkan si anak menghadapi sumur-sumur kering, daunan gugur bersama reranting.
• hanya mata air airmatamu ibu , yang tetap lancar mangalir : seorang anak mengibaratkan air mata kesedihan ibunya (yang penuh kekhawatiran terhadapnya dalam perantauan) sebagai mata air yang senantiasa mengalir lancar, berlimpah ruah sebab ia (si anak) jauh dari ibunya – adalah sebuah doa (kekuatan) untuknya. Maka, sebesar apapun rintangan hidup yang dihadapinya, akan sanggup dilewatinya demi meraih keberhasilan.
Secara keseluruhan, bait pertama dalam puisi Ibu bermakna kesedihan (kekhawatiran sang ibu) terhadap anaknya yang hidup di perantauan merupakan sebuah doa (kekuatan) si anak untuk meraih keberhasilan. Maka, jika si anak merantau, sebesar atau seberat apapun tantangan, halangan dan rintangan hidup yang sedang dihadapi akan sanggup dilewati si anak karena dorongan sang ibu.
Bait II
• bila aku merantau : seorang anak berandai-andai, jika ia pergi merantau, jauh dari ibunya.
• sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku : si anak teringat akan masa kecilnya saat ia sangat dekat dengan ibunya, yaitu ketika ia masih menyusu ibunya, si anak mengibaratkan susu ibunya seperti sedapnya kopyor (air kelapa yang segar) dan segala kenakalannya (merengek, menangis, dan sebaginya) tak membuat ibunya berhenti menyusuinya.
• di hati ada mayang siwalan memutikkan sari - sari kerinduan : seketika itu si anak dirundung kerinduan yang dalam pada ibunya. Kerinduannya ini diibaratkan seperti mayang siwalan (kembang pohon lontar yang bermekaran) yang selalu mengembangkan putik dan benang sari, seolah putik itu kawin denga sari-sari rindu yang ada di hati si anak.
• lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar : Kerinduan si anak yang sangat ingin membalas kasih sayang ibunya tetapi ia merasa tak sanggup membayarnya dengan apapun (tak sanggup membalas cinta ibu terhadapnya), sehingga si anak merasa masih berhutang budi pada ibunya.
Secara keseluruhan, bait kedua dalam puisi Ibu bermakna kerinduan si anak pada ibunya jika ia jauh dari ibunya saat merantau, sehingga si anak selalu teringat masa kecilnya dan ingin membalas budi pada ibunya, tetapi ia merasa, cinta ibunya tidak akan sanggup dibayarnya dengan apapun.
Bait III
• ibu adalah gua pertapaanku : penggambaran sosok ibu sebagai tempat bernaung bagi si anak, tempat untuk berlindung (seperti gua pertapaan) dalam kehidupan si anak.
• dan ibulah yang meletakkan aku disini : si anak bercerita bahwa ibunyalah yang meletakkannya di dalam “gua pertapaan” sang ibu, ibunyalah yang meletakkannya di dalam tempat bernaung.
• saat bunga kembang menyemerbak bau sayang : si anak bercerita bahwa ketika itulah (ketika ibunyalah yang meletakkannya di dalam tempat bernaung) kasih sayang ibunya sangat besar. Ibunya diibaratkan seperti bunga di atas bunga (sangat indah),yaitu bunga-nya kembang yang memberi keharuman (‘menyemerbak bau’). Keharuman (‘bau’) yang dimaksud adalah kasih sayang sang ibu pada si anak.
• ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi : ‘langit’ bermakna Tuhan, sedangkan ‘bumi’ bermakna segala ciptaan Tuhan yang ada di bumi, khususnya adalah ibu. Dalam arti, sang ibu menunjukkan pada anaknya bahwa surga Tuhan ada di telapak kaki ibu.
• aku mengangguk meskipun kurang mengerti : melihat sang ibu ‘menunjuk ke langit, kemudian ke bumi’, si anak meng-iya-kan dengan ‘mengangguk’ bermaksud mengerti dengan apa yang ingin ditunjukkan oleh sang ibu terhadapnya. Meskipun si anak tidak begitu paham (‘kurang mengerti’), tetapi ia berusaha menyerap apa yang diajarkan oleh ibunya.
Secara keseluruhan, bait ketiga dalam puisi Ibu bermakna gambaran sosok ibu sebagai tempat untuk bernaung bagi si anak, juga tempat belajar tentang Tuhan dan segala ciptaannya yang ada di bumi, khususnya adalah ibunya. Si anak berusaha mengerti dengan apa yang ditunjukkan dan diajarkan oleh ibunya.
Bait IV
• bila kasihmu ibarat samudera : si anak mengibaratkan kasih sayang ibunya seperti samudera (lautan yang sangat luas).
• sempit lautan teduh : karena kasih sayang ibunya seluas samudera, maka lautan sejatinya tampak sempit jika dibandingkan dengan cinta ibu terhadapnya, dan sebagian kecil dari cinta ibunya telah membuat si anak merasakan ‘teduh’, yaitu kenyamanan dan kesejukan dalam kehidupannya.
• tempatku mandi, mencuci lumut pada diri : sebagian kecil dari cinta ibunya telah membuat si anak bisa ‘mandi’, ibunya adalah ‘tempat mandi’, yaitu ‘mencuci’— membersihkan dirinya dari ‘lumut’, yaitu kesalahan-kesalahan atau dosa pada dirinya. Sehingga sedikit dari cinta atau kasih sayang ibunya telah dapat memperbaiki hidupnya dari kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya.
• tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh : sang ibu juga adalah ‘tempat berlayar’ bagi si anak, yaitu tempat si anak memulai kehidupan dari sejak dilahirkan oleh ibunya, sampai si anak bisa ‘menebar pukat’ dan ‘melempar sauh’ yaitu menentukan sendiri apa yang akan dicapainya dalam hidupnya, kapan dan dimana si anak akan menentukan tujuan hidupnya.
• lokan - lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku : penggambaran sang ibu yang sangat dermawan pada anaknya, bahwa segala yang terbaik untuk si anak telah diberikan oleh ibu. Jadi, ketika si anak ‘berlayar’ (memulai dan menjalani hidup), ia telah memeroleh kasih sayang, ilmu, dan semua hal yang terbaik itu dari ibunya.
• kalau ikut uian lalu ditanya tentang pahlawan : si anak berandai-andai, jika ia mengikuti ujian, dan ada pertanyaan atau soal tentang pahlawan.
• namamu, ibu, yang akan ku sebut paling dahulu : dalam mengikuti ujian dan ada soal tentang pahlawan itulah, maka si anak akan menulis nama ibunya terlebih dahulu. Jadi, menurut si anak, ibunya adalah seorang pahlawan baginya, pahlawan yang nomor satu, yang akan disebutnya ‘paling dahulu’.
• lantaran aku tahu : karena si anak mengetahui, paham bahwa
• engkau ibu dan aku anakmu : sang ibu adalah ibunya dan ia adalah anak ibunya, sehingga segala jasa ibu terhadapnya adalah seperti pahlawan.
Secara keseluruhan, bait ketiga dalam puisi Ibu bermakna penggambaran kebaikan dan ketulusan kasih sayang sang ibu mengalahkan kebaikan dan ketulusan seorang dermawan dan pahlawan. Sedikit saja cinta kasih dari sang ibu, telah membuat si anak sanggup merasakan kenyamanan dan ketentraman dalam hidupnya, serta mampu menghapus dosa-dosa yang telah diperbuat anaknya.
Bait V
• bila aku berlayar lalu datang angin sakal : si anak berandai-andai, jika ia ‘berlayar’, yaitu menjalani hidupnya kemudian ‘datang angin sakal’, yaitu menghadapi cobaan hidup yang berat, yang membuat hidupnya terombang ambing seperti kapal yang sedang berlayar
• Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal : maka si anak akan selalu ingat Tuhannya, yang ia kenal dan ketahui—sebagai pedoman hidupnya yang dulu pernah ditunjukkan oleh ibunya.
• ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala : bagi si anak, ibunya adalah Tuhannya, yang selalu baik dan mengajarkan kebaikan yang sangat indah, diibaratkan seperti ‘bidadari yang berselendang bianglala’.
• sesekali datang padaku : ibunya yang dianggap Tuhannya bagi si anak, itu sesekali mengingatkan si anak, hadir dalam kehidupan si anak yang masih di perantauan, jauh dari ibunya.
• menyuruhku menulis langit biru : ibu yang dianggap Tuhan si anak itu menyuruhnya ‘menulis langit biru’, yaitu memilih jalan kebaikan yang terarah untuk hidupnya. Dalam arti, si anak harus selalu ingat akan nasihat ibunya, ingat akan jalan Tuhan, meskipun jauh dari ibunya (dirantau).
• dengan sajakku : jalan kebaikan atau jalan yang ditunjukkan ibunya (Tuhannya) itu ‘harus ditulis dengan sajaknya’, yaitu si anak harus jujur dan penuh keikhlasan seperti membuat puisi atau ‘sajak’ ketika menjalani kehidupan dengan memilih jalan Tuhan—jalan kebaikan.
~1966~ : menunjukkan tahun pembuatan puisi Ibu oleh penyair D. Zawawi Imron.
Kesimpulan
Bagi si anak, khususnya penyair itu sendiri, D. Zawawi Imron, ibunya adalah sosok wanita yang penuh cinta kasih dan sangat terhormat, sebab budi baik sang ibu tidak bisa dibalas dengan apapun. Kebaikan dan ketulusan hati seorang ibu melebihi seorang dermawan dan pahlawan. Ibu selalu memberi segala yang terbaik untuk anaknya, melebihi pemberian sang dermawan. Ibu selalu mengasihi tanpa meminta imbalan apapun, melebihi jasa pahlawan. Ibu juga selalu menasihati, menunjukkan jalan kebaikan seperti Tuhan, sebab ibu adalah Tuhan, bidadari yang berselendang bianglala : sangat indah, melebihi keindahan apapun.
Kurang lengkap,ngga ada parafrasanya
BalasHapusKurang lengkap,ngga ada parafrasanya
BalasHapusSangat membantu, terimakasih banyak ya, sudah membuat laman ini
BalasHapus