Selasa, 09 November 2010

The White Tiger – Cermin Korupsi di Indonesia

Judul buku : The White Tiger
Judul asli : White Tiger
Penulis : Aravind Adiga
Penerjemah : Rosemary Kesauly
Editor : Benedicta Rini W.
Penerbit : CV. Andi Offset
Tahun terbit : Maret 2010
Tebal halaman : 7 + 352
Peresensi : Pramita Jaya E. T.

“Aravind Adiga lewat novelnya, The White Tiger, berhasil menggambarkan secara apik dan jelas, realisme sosial masyarakat India. Dengan teknik bertutur yang lancar, ia membongkar isi perut India : kondisi sosial, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan politik, semua diletakkan di atas meja. India adalah sebuah paradoks, di satu sisi ada kemajuan teknologi dan kesadaran kewirausahaan yang demikian tinggi, tetapi di sisi lain sebagian besar anggota masyarakat masih dibelenggu budaya serta segala tatanan masyarakat yang membuat mereka tak mampu berbuat apa-apa kecuali menerima begitu saja. Menarik!”, ujar Trias Kuncahyono. Itulah sekelumit pendapat seorang penulis buku best seller, Jerussalem dan Jalur Gaza, Wapemred Harian Nasional KOMPAS tentang novel ini.
Berbicara mengenai kasus korupsi memang seakan tiada habisnya. Negeri kita sejatinya sama dengan India, “digerogoti” oleh berbagai tindak korupsi, uang suap/tutup mulut, ketidaktaatan dan ketidakjujuran dalam mengemban tugas, dan sejenisnya. Belum habis permasalahan Bank Century, masyarakat kita sudah dihadapkan lagi dengan kasus korupsi dalam dunia perpakajan yang menyeret Susno Duadji, Gayus Tambunan, pihak kepolisian, kejaksaan, dan pastinya Direktorat Jenderal Pajak.
Bayangkan saja, berapa banyak uang rakyat yang dikorupsi, bermilyar-milyar hingga mencapai triliunan lebih dari tahun ke tahun seolah tiada habisnya dan telah menjadi budaya yang mengakar dan mendarah daging. Sejumlah besar uang yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di berbagai bidang: pendidikan, perekonomian, sarana umum dan transportasi, dan yang lainnya, nyatanya masuk ke perut-perut segelintir orang.
Novel The White Tiger sebelumnya ditulis oleh Aravind Adiga pada tahun 2008 dan telah berhasil meraih penghargaan sebagai “Winner of The Man Booker Prize”, tetapi baru diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia pada tahun 2010. Aravind yang seorang jurnalis dan pernah menjadi koresponden India untuk majalah Time membuat novel perdananya ini tampak begitu jujur menguak sisi gelap India, termasuk Laxmangarh dan Bangalore. Dengan gaya bertuturnya yang mengalir begitu saja membuat novel The White Tiger yang digarapnya menjadi lugas dan membuat para pembaca tersentak.
Terlahir di Laxmangarh, India, Balram-anak penarik ricksaw, harus putus sekolah karena keluarganya tak mampu dan tak lagi mau membiayainya karena lebih mengutamakan sebuah pesta perkawinan saudara sepupunya secara besar-besaran. Ia pun harus bekerja sebagai buruh, mulai dari pelayan di kedai teh, pengelap meja, dan pemecah batu-bara. Selama itu ia menjadi pendengar yang baik (menguping) dalam membangun impiannya untuk melarikan diri dan mencari pencerahan diri jauh dari kampong tempat leluhurnya.
“Omong kosong besar”—itulah kata yang selalu diucapkan oleh Balram (tokoh utama sebagai pencerita) jika ia mendengar segala sisi baik yang dielu-elukan oleh para menteri India tentang negaranya itu. Padahal selama ini fakta yang disaksikan oleh Balram, India adalah sebuah negara kegelapan. Balram merasa muak dengan keserakahan elit-elit India, dimana uang suap, korupsi, adalah suatu hal yang sangat wajar terjadi dan selalu mengorbankan banyak orang (rakyat kecil/masyarakat kelas bawah) demi hasrat sedikit orang (kaum penguasa kelas atas).
Saat Balram mendengar All India Radio mengumumkan bahwa Perdana Menteri Cina, Wen Jiabao akan berkunjung ke Bangalore, India, minggu depan, untuk bertemu beberapa entrepreneur India dan mendengar langsung kisah sukses mereka, Balram segera bertindak. Ia menulis surat tiap malam dan pagi untuk dikirim ke Mr. Wen Jiabao. Dalam surat itulah ia menguak tuntas kisah hidupnya yang pahit disebabkan keburukan moral dan keserakahan kaum penguasa.
Tak hanya itu, Aravind Adiga lewat tokoh Balram juga mengungkap segala sisi gelap dari India: kondisi sosial-budaya masyarakatnya, mental para menteri dan penduduknya, dan satu sisi cerah dari India, yaitu kemajuan teknologi dan jiwa kewirausahaan atau entrepreneur yang dimiliki oleh orang-orang India seperti Balram.
Kemarahan Balram terhadap kesewenangan yang selalu dilakukan oleh para polisi, menteri, dan kaum elit lainnya, membuatnya untuk mengambil sebuah keputusan: ia membunuh Mr. Ashok, majikan yang selama ini dipujanya dengan cara menggorok leher si majikan dan mengambil sejumlah besar rupee uang yang dibawa oleh majikannya. Uang yang seharusnya untuk menyuap menteri itu dicurinya untuk membangun impiannya dan keluar dari keterpurukan hidupnya.
Sayangnya, novel ini ditulis dengan alur campuran yang maju-mundur, sehingga membuat pembaca harus lebih cermat dalam memahami isinya. Namun secara keseluruhan, novel ini membuat kita menyadari bahwa sejatinya negara kita tercinta, Indonesia, juga tak ubahnya seperti India: uang suap, korupsi, dan ketidakadilan hukum menjadi “menu makanan” hampir setiap hari di media masa. Peluncuran novel The White Tiger yang hampir bersamaan dengan kasus korupsi uang pajak oleh Gayus Tambunan dan antek-anteknya ini pun menjadi sangat pas untuk para koruptor berkaca dan berbenah diri agar tidak lagi merugikan bangsa ini. (Pramita)
Televisi, Orang Tua Anak Masa Kini

Anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang harus mendapat perhatian lebih dari orang tua, pemerintah, dan masyarakat pada umumnya. Hak-hak mereka harus dilindungi, dipenuhi, dan diperhatikan. Selayaknya orang dewasa, mereka juga menginginkan pemimpin atau teladan yang baik bagi mereka. Pemimpin yang dimaksud dalam dunia mereka bukanlah presiden atau anggota dewan, tetapi sebuah keteladanan yang bisa mereka contoh dalam bersikap dan bertingkah laku.
Dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak sering meniru gaya ayah dan ibunya dalam hal berpakaian, berdandan, bersikap, dan yang lainnya. Sayangnya, anak-anak juga remaja pada umumnya kini lebih cenderung meniru bintang idolanya yang muncul di layar kaca (televisi) rumah mereka. Cerita anak (dalam hal ini, komik yang difilmkan) yang mengandung unsur permusuhan/perkelahian juga ditiru oleh anak-anak. Di sekolah, selain buku-buku pelajaran, anak-anak juga membawa pistol mainan, peluru, dan mainan kekerasan lainnya. Pada jam-jam istirahat sekolah, mereka bermain layaknya bertarung/sedang bertempur dengan musuh paling berbahaya. Pertarungan yang mereka lakukan, tak lain adalah karena dampak yang ditimbulkan dari berbagai acara/tayangan televisi yang ditonton sehari-hari di rumah.
Peran orang tua di rumah dan guru di sekolah (yang dielu-elukan sebagai teladan bagi anak-anak), hanya sedikit yang memberi pengaruh pada perkembangan mental anak-anak, justru yang paling berpengaruh adalah tontonan televisi yang ditunggu-tunggu penayangannya setiap hari. Dalam hal ini, orang tua wajib memberi bimbingan/arahan kepada anak-anak saat menonton televisi di rumah.
Berbagai acara yang ditayangkan di televisi sekarang lebih mengutamakan jargon “yang penting laris di pasaran”, dengan mengesampingkan nilai-nilai pendidikan dan moral yang baik untuk pemirsanya (khususnya anak-anak). Para sutradara, pencipta lagu, dan penulis skenario lebih antusias membuat film, sinetron, atau lagu untuk orang-orang dewasa daripada anak-anak. Memang ada, tayangan-tayangan positif yang khusus untuk anak-anak (contoh, “Si Bolang”, “Koki Cilik”, kuis anak-anak), tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan tayangan bagi pemirsa dewasa (contoh, “Cinta Fitri”, “Kemilau Cinta Kamila”, acara-acara musik secara langsung/live). Dan, acaranya pun jarang dibumbui label “BO” (bimbingan orang tua). Kalau toh memang ada, isinya pun ada yang masih mengandung unsur pornografi atau kekerasan. Contoh, film tentang pahlawan-pahlawan bertopeng (Ultraman, Power Rangers, dsb.) lebih banyak mengandung unsur kekerasan dalam adegan perkelahian daripada kepahlawanan itu sendiri. Komik yang difilmkan, contoh, “Crayon Sinchan”, mengandung unsur pornografi, di antaranya, ketika adegan Sinchan mengintip ibunya berganti pakaian lalu menggunakan bra ibunya sebagai mainan kacamata pahlawan bertopeng, Sinchan mengintip rok (seragam sekolah) yang dipakai teman perempuan di sekolahnya saat ada angin berhembus (yang membuat rok temannya sedikit terbuka). Anak-anak sekarang juga lebih cepat menghapal lagu orang dewasa (“Puspa-ST12”, “Cinta Gila-Ungu”) daripada lagu “Cicak-cicak di Dinding”. Hal ini disebabkan oleh apa saja yang ditonton oleh anak-anak di layar kaca, kini telah menjadi orang tua (teladan) bagi mereka, tanpa tahu itu baik atau buruk.
Sebagai tindak lanjut dari fenomena di atas, seharusnya pihak pengelola televisi stasiun apapun lebih mengutamakan tayangan yang bernilai positif—yang mengandung nilai-nilai pendidikan, norma-norma susila, moral, atau kepahlawanan, untuk anak-anak daripada menampakkan unsur negatif di dalamnya. Orang tua anak-anak zaman sekarang adalah televise, sehingga masyarakat—khususnya orang tua dan guru, harus lebih memperhatikan perkembangan jiwa dan tingkah laku anak-anak, karena anak-anak adalah harapan bangsa.(Pramita)