Selasa, 09 November 2010

Televisi, Orang Tua Anak Masa Kini

Anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang harus mendapat perhatian lebih dari orang tua, pemerintah, dan masyarakat pada umumnya. Hak-hak mereka harus dilindungi, dipenuhi, dan diperhatikan. Selayaknya orang dewasa, mereka juga menginginkan pemimpin atau teladan yang baik bagi mereka. Pemimpin yang dimaksud dalam dunia mereka bukanlah presiden atau anggota dewan, tetapi sebuah keteladanan yang bisa mereka contoh dalam bersikap dan bertingkah laku.
Dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak sering meniru gaya ayah dan ibunya dalam hal berpakaian, berdandan, bersikap, dan yang lainnya. Sayangnya, anak-anak juga remaja pada umumnya kini lebih cenderung meniru bintang idolanya yang muncul di layar kaca (televisi) rumah mereka. Cerita anak (dalam hal ini, komik yang difilmkan) yang mengandung unsur permusuhan/perkelahian juga ditiru oleh anak-anak. Di sekolah, selain buku-buku pelajaran, anak-anak juga membawa pistol mainan, peluru, dan mainan kekerasan lainnya. Pada jam-jam istirahat sekolah, mereka bermain layaknya bertarung/sedang bertempur dengan musuh paling berbahaya. Pertarungan yang mereka lakukan, tak lain adalah karena dampak yang ditimbulkan dari berbagai acara/tayangan televisi yang ditonton sehari-hari di rumah.
Peran orang tua di rumah dan guru di sekolah (yang dielu-elukan sebagai teladan bagi anak-anak), hanya sedikit yang memberi pengaruh pada perkembangan mental anak-anak, justru yang paling berpengaruh adalah tontonan televisi yang ditunggu-tunggu penayangannya setiap hari. Dalam hal ini, orang tua wajib memberi bimbingan/arahan kepada anak-anak saat menonton televisi di rumah.
Berbagai acara yang ditayangkan di televisi sekarang lebih mengutamakan jargon “yang penting laris di pasaran”, dengan mengesampingkan nilai-nilai pendidikan dan moral yang baik untuk pemirsanya (khususnya anak-anak). Para sutradara, pencipta lagu, dan penulis skenario lebih antusias membuat film, sinetron, atau lagu untuk orang-orang dewasa daripada anak-anak. Memang ada, tayangan-tayangan positif yang khusus untuk anak-anak (contoh, “Si Bolang”, “Koki Cilik”, kuis anak-anak), tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan tayangan bagi pemirsa dewasa (contoh, “Cinta Fitri”, “Kemilau Cinta Kamila”, acara-acara musik secara langsung/live). Dan, acaranya pun jarang dibumbui label “BO” (bimbingan orang tua). Kalau toh memang ada, isinya pun ada yang masih mengandung unsur pornografi atau kekerasan. Contoh, film tentang pahlawan-pahlawan bertopeng (Ultraman, Power Rangers, dsb.) lebih banyak mengandung unsur kekerasan dalam adegan perkelahian daripada kepahlawanan itu sendiri. Komik yang difilmkan, contoh, “Crayon Sinchan”, mengandung unsur pornografi, di antaranya, ketika adegan Sinchan mengintip ibunya berganti pakaian lalu menggunakan bra ibunya sebagai mainan kacamata pahlawan bertopeng, Sinchan mengintip rok (seragam sekolah) yang dipakai teman perempuan di sekolahnya saat ada angin berhembus (yang membuat rok temannya sedikit terbuka). Anak-anak sekarang juga lebih cepat menghapal lagu orang dewasa (“Puspa-ST12”, “Cinta Gila-Ungu”) daripada lagu “Cicak-cicak di Dinding”. Hal ini disebabkan oleh apa saja yang ditonton oleh anak-anak di layar kaca, kini telah menjadi orang tua (teladan) bagi mereka, tanpa tahu itu baik atau buruk.
Sebagai tindak lanjut dari fenomena di atas, seharusnya pihak pengelola televisi stasiun apapun lebih mengutamakan tayangan yang bernilai positif—yang mengandung nilai-nilai pendidikan, norma-norma susila, moral, atau kepahlawanan, untuk anak-anak daripada menampakkan unsur negatif di dalamnya. Orang tua anak-anak zaman sekarang adalah televise, sehingga masyarakat—khususnya orang tua dan guru, harus lebih memperhatikan perkembangan jiwa dan tingkah laku anak-anak, karena anak-anak adalah harapan bangsa.(Pramita)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar