1 Desember 2012
Aku tak tahu segala hal berbau bola. Meski dulu aku sempat ikut tim futsal di sekolah semasa SMP, aku sama sekali bukan penggila bola. Tapi malam ini, aku mencoba turut larut dalam gegap gempita nobar (nonton bareng) pertandingan ini di kantor.
Hmmmm... tetap saja aku tak paham. Tapi ada kekecewaan dalam diriku saat Malaysia sudah membuahkan hasil: dua gol dalam tempo waktu yang singkat, menit ke-27 dan 30! Kawan kantorku tampak meremas-remas bahu kawanku yang lain. Bahkan sesekali ada yang berteriak, "Jancuuuuk.Cuk...!" Ya, kata ini paling efektif diucapkan dalam kegelisahan atau kemarahan yang teramat sangat saat ini. Kata asli garapan arek Suroboyo.... Ada pula yang meninju kepala kawanku yang lain.
Yah, mungkin memang begitulah dunia lelaki jika sudah menonton bola. Dunia media massa di kantorku memang dipenuhi kaum lelaki. Cuma sedikit perempuan yang terlibat di dalamnya.
Tiba-tiba, dan tak terasa mataku tergenang kesedihan yang teramat. Aku pun teringat film "Tanah Surga" yang mengisahkan kehidupan anak-anak di pedalaman Sumatera. Mereka lebih senang dan bangga jika menerima atau menggunakan uang Ringgit dalam jual-beli sehari-hari, termasuk orang dewasa di sana.
-Nasionalisme- Ya, itulah yang terlintas dalam pikiranku sekarang. Entah, seketika hatiku basah. Tak bisa kupungkiri, Indonesiaku kalah...