Jumat, 18 Desember 2009

~SEKAR JIWA~
Ku titipkan setangkai sekar jiwaku untukmu, agar kemudian kamu selipkan di saku jaketmu.Atau di saku celanamu.Atau di saku bajumu.Dan jangan lupa juga sesekali kamu selipkan di lehermu, di ketiakmu, atau di selakanganmu.Agar bisa ku cumbu selalu aroma tubuhmu yang wangi oleh sebab sekar jiwaku.Di pelataran rumahku malam itu, kamu bercerita tentang prinsip-prinsip kepercayaan. Kamu menguraikannya menjadi sekar-sekar jiwaku yang baru. Kamu mengajak sekar jiwaku berdialog denganmu.Sampai-sampai, kamu tak pedulikan dua tangkai besar menjulang di depan daun pintu rumahku, yang oleh orang-orang biasa menyebutnya pohon mangga dan belimbing wuluh. Tapi,ah..tak patut disebut pohon.Sebab batangnya tak lebih dari delapan sentimeter lebarnya.Kamu pun juga tak pedulikan tanaman-tanaman di pot yang tumbuh ke bawah melawan gravitasi.pun tak pedulikan akuarium yang membuat ikan-ikan kecil itu menari-nari di dalamnya.Seketika ku alihkan pandanganmu ke arah akuarium itu,juga ke aneka tumbuhan itu.Lalu kamu berkata,"Tidak." Dan kmu tetap mengajak sekar jiwaku berdialog dengan sayap kumbangmu...Ah.Seberapa jauh kamu mengenaliku....??Seberapa jauh aku mengenalimu...??Aku tak tahu.pun,kamu tak tahu.Seberapa sering sekar jiwa kita berdialog...?
Malam ini aku mendengarmu memanggil-manggil sekar jiwaku.Tiba-tiba saja motorku sudah sampai pada perbincanganku dengan ibu dan adikmu.Sebab kamu tengah terlelap..Lalu ku dengar kamu memanggiku.Ku pikir kamu sudah bangun dan telah menguapkan mimpi-mimpimu..Aku hendak beranjak dari dudukku.Tiba-tiba saja ibumu berkata lembut,"Tak usah,Nak.Anakku sudah biasa memanggil namamu di lelap tidurnya.Dia itu sering mengigau.Jaya.Jaya.Jaya...." Ah.Begitukah sekar jiwamu selalu mengajakku berdialog?Bahkan dalam bunga tidurmu sekalipun......Begitu kuatkah sekar jiwamu mengajakku berdialog malam ini....?Maafkan aku sebab belum bisa pahami cinta...Padahal kamu telah tawarkan sekar edelweis untukku...Jauh sebelum ku kenal kamu lebih dekat. Aku telah menghapus kristal-kristal lembut di mataku.Sebab kamu menjadi dokter jiwaku.Dokter teristimewa untukku,yang mampu mengikis memori-memori tajam di otakku,secara perlahan....Sebab memori-memori itu bisa saja mencengkeram impian-impianku lalu dileburkannya aku dalam kesakitan,ketakutan,kegelisahan.
Kini sekar jiwaku tengah berdialog lagi,lagi dan lagi denganmu. Ya, berdialog.Ah.Tidak.Tidak hanya itu.Tapi sekar jiwaku juga menari-nari di pangkuan asmaramu.Selamanya...Seterusnya....

2 komentar: