Kamis, 06 Desember 2012

PAMIT

Minggu,02-12-2012 Mimpiku bau kenanga semerbak tenggelam bersamanya mati aku dalam buaian itukah iming-iming perantauan? Terhenyak aku dalam lamunan -tak bertuan- kupilih mati di ladang atau jadi mayat hidup di gedung? genangan di mata bapakku tak terbendung "Aku sudah jadi lelaki, Pak," kataku tanpa ba-bi-bu, Bapak berlalu memunggungiku parau suaranya, memang secepat kilat, kuangkat kaki tinggi-tinggi "Aku bakal jadi bakau kokoh, bukan mayat hidup," gumamku pasti.

Merayu Tuhan

November 2012 Rindu kuterlelap di kasur empuk nan mengkilap di sanalah dataran impian menjual buaian berlian Kini jatuhlah jua, hina-dina-niista dirayunya Tuhan pula mati pun rela

Titian Elegi

29 Nov 2012 ilalang boleh saja pergi, tapi aku tak ingin menanti, kelu, menyibak duri, hening nian ukhrawi...

Untuk Suamiku Terkasih...

Kamis, 27 Sept 2012 Kamulah pasir yang menghapus aksara di tepian. Kawanmu angin semilir berlabuh di kerinduan.

Indonesiaku Berhijab Kelabu

1 Desember 2012 Aku tak tahu segala hal berbau bola. Meski dulu aku sempat ikut tim futsal di sekolah semasa SMP, aku sama sekali bukan penggila bola. Tapi malam ini, aku mencoba turut larut dalam gegap gempita nobar (nonton bareng) pertandingan ini di kantor. Hmmmm... tetap saja aku tak paham. Tapi ada kekecewaan dalam diriku saat Malaysia sudah membuahkan hasil: dua gol dalam tempo waktu yang singkat, menit ke-27 dan 30! Kawan kantorku tampak meremas-remas bahu kawanku yang lain. Bahkan sesekali ada yang berteriak, "Jancuuuuk.Cuk...!" Ya, kata ini paling efektif diucapkan dalam kegelisahan atau kemarahan yang teramat sangat saat ini. Kata asli garapan arek Suroboyo.... Ada pula yang meninju kepala kawanku yang lain. Yah, mungkin memang begitulah dunia lelaki jika sudah menonton bola. Dunia media massa di kantorku memang dipenuhi kaum lelaki. Cuma sedikit perempuan yang terlibat di dalamnya. Tiba-tiba, dan tak terasa mataku tergenang kesedihan yang teramat. Aku pun teringat film "Tanah Surga" yang mengisahkan kehidupan anak-anak di pedalaman Sumatera. Mereka lebih senang dan bangga jika menerima atau menggunakan uang Ringgit dalam jual-beli sehari-hari, termasuk orang dewasa di sana. -Nasionalisme- Ya, itulah yang terlintas dalam pikiranku sekarang. Entah, seketika hatiku basah. Tak bisa kupungkiri, Indonesiaku kalah...
KHIDMAT Sejenak ku rehat biar jiwa sehat tak payah kusemat kasih tak bersyarat
Minggu,23 Sept 2012 Padamu Edelweis Edelweis masih bertahan meski tak semerbak dahulu ganti, kini di taman haluan merangkai yang dulu berlalu Edelweis goyah kena angin, kekeringan tetap, ia bergairah menyongsong daun berguguran