SERDADU TUA DAN JIPNYA
(Sebuah Naskah Drama: Diadopsi Dari Cerpen “Serdadu Tua dan Jipnya Karya Wilson Nadeak)
Babak I
Di beranda rumah sebuah keluarga sederhana, mantan Letnan Kolonel Banun sedang asyik membaca surat kabar sambil memandangi mobil tuanya yang ia parkir di halaman rumahnya. Lalu Ny.Nur, istrinya, datang membawakan secangkir kopi hangat untuknya.
Ny. Nur : (sambil meletakkan secangkir kopi di meja). Mbok ya sudah to, Pak! Apa gunanya ngurusi mobil tua itu. (Lalu duduk di samping suaminya). Mau makan apa kita, kalau uang pensiunanmu dihabiskan sia-sia saja. Heh…Cuma buat merawat istri keduamu itu toh. Iya toh. Hidup tambah susah Pak, kita juga sudah tua, sakit-sakitan. Wis kepala pitu, bau tanah. Mbok ya jangan kau tambah beban kita ini. (cemberut)
Pak Banun : Sudah lah, Ma. Hei..Hey.. Kau cemburu ya dengan mobil kesayanganku itu? (memandangi istrinya penuh selidik, lalu mengedipkan sebelah mata).
Ny. Nur : Ah. Buat apa to. Sudah tua begini kok cemburu segala. Apalagi sama jip tua itu.
Pak Banun : Lo. Kalau bukan cemburu, lantas apa namanya? Selama ini kau selalu saja mempersoalkan hobiku buat merawat dan mempercantik jip punyaku itu.
Ny. Nur : Pak, mbok ya sampeyan itu berhenti ngeloni mobilmu itu. Kita ini sudah tua, sudah saatnya menikmati masa tua kita. Kau selalu saja bebani anak kita untuk membuat jip itu bias berjalan lagi. Lihat saja bannya sangat besar dan mahal. Onderdilnya susah dicari. Mesinnya harus bongkar pasang dari awal. Kenapa sih kok repot-repot, Pak. Ngerepotin si Rahmat juga. Mbok ya ingat dengan kesehatanmu. Uang pensiunanmu dan uang dari anak-anak kita bisa habis cuma buat jip tua bangkotan itu. Apalagi kau sering menyuruh Rahmat memperbaiki mobil itu di bengkelnya. Bisa bangkrut toh dia itu, Pak. Kasihan anak kita.
Pak Banun : Ma, masalah uang itu tidak usah kau pikirkan. Dengar, Ma. Rejeki itu datangnya dari Tuhan. Kalau uang kita habis, kita ya masih bisa makan nasi sama kangkung, tempe-tahu. Iya toh? Malah bagus buat kesehatan kita. Kita juga masih dapat jatah bulanan dari anak-anak kita yang lain. Nggak cuma dari Rahmat. Tapi Siti dan Indah juga ngasih kita uang toh, meskipun mereka sekarang sudah di luar kota. Sudah lah, Ma. Nanti kau akan lihat, kelak mobil tuaku ini akan membawa keberuntungan buat kita.
Ny. Nur : Heh.. Keberuntungan apa toh, Pak?
Pak Banun : Kau tahu? Kemarin, Pak Noto, tetangga kita yang kaya itu sudah menawar jipku ini hamper satu milyar! 1 M, loh Ma. Lah lumayan toh. Belum tentu juga kita bisa menghabiskan uang sebanyak itu di sisa umur kita. Ya, toh?
Ny. Nur : Wah. Bagus itu Pak. La tapi kok jip itu masih ada di halaman rumah kita? Apa kau belum menyerahkannya pada Pak Noto?
Pak Banun : Harga itu masih rendah buat jip itu. Lagipula… Ah aku masih saying sekali dengan mobil kuno itu, Ma. Terlalu banyak kenanganku bersama jip itu sewaktu aku masih menjadi Letkol dulu.
Ny. Nur : (sambil mengurut dadanya yang naik turun sedari tadi) Ealah…Haduh Gusti..Piye to bojoku iki.. Yo wis Pak. Sak karepmu. Terserah Pak’e saja lah. Aku ini sudah capek menasehati kamu, Pak.
Pak Banun : He, Dik Nur…Jantungmu itu jangan sampai kumat gara-gara terlalu serius mikir jip tua kesayanganku ini. Anggap saja, ini hiburan buat masa tua kita. Iya toh, Ma. Kau lihat kan, mobil Wilys milik anak kita si Rahmat itu, sudah seratus lima puluh orang yang dating melihat dan menawarnya dengan harga yang tinggi.
Ny. Nur : Kenapa nggak dijual saja sama dia, Pak? Uangnya kan bisa buat modal dagang istrinya. Selama ini istrinya tidak punya gawean sama sekali toh, bisanya cuma bergantung pada Rahmat.
Pak Banun : Sampai sekarang anak kita itu masih bertahan dengan harga yang diinginkannya. Entah berapa. Lagipula, dia masih senang merawat mobil Wily situ. Ya terserah dia to.
Ny. Nur : Yah. Kalau begitu aku tidur saja, Pak. Aku bosan menasehatimu. Jantungku nanti bisa tambah parah. (berlalu ke dalam rumah, hendak tidur di kamar, agar jantungnya tidak kumat lagi).
Pak Banun : (menggelengkan kepala, heran dengan tingkah istrinya)
Babak II
Keesokan paginya, di beranda rumah, Pak Banun yang sedang beristirahat di kursi goyang terlihat kelelahan setelah mengelap-ngelap mobil kuno kesayangannya. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan Warso, adik iparnya yang membawa serta istri (Ny. Warso) dan anak-anaknya (Ratna dan Koko) berkunjung ke rumahnya.
Pak Warso : Kang. Kang Banun. (membangunkan Pak Banun yang tertidur di kursi goyang) Lah kok tiduran di kursi to, Kang? Mbakyu di mana?
Pak Banun : Eh…(mengusap mata sambil menguap) Oh, Warso.. Ada. Mbakyumu ada di dalam. Mungkin dia masih tidur. Ayo, ayo masuk ke dalam.
Pak Warso : Masih belum bedug begini kok sudah tidur. Mbakyu sakit to, Kang? (sambil mengajak istri dan anak-anaknya duduk di ruang tamu)
Pak Banun : Iya, akhir-akhir ini jantungnya sering kumat. Sebaiknya jangan diganggu. Kalian mau minum apa?
Pak Warso : Ndak usah repot-repot, Kang. Sini, Kang. Saya mau bicara sebentar.
Pak Banun : Ada apa? Kok sepertinya penting sekali?
Pak Warso : Begini lo, Kang. Saya itu sebagai adik, kasihan melihat mbakyu-ku. Kakang sebaiknya lebih memerhatikan Mbak Nur, bukan malah sibuk sendiri dengan jip tua Kang Banun. Saya bukannya lancang dan ikut campur, Kang. Tapi sebagai ipar, saya ingin mengingatkan Kang Banun. Beberapa hari yang lalu, saya menelepon mbakyu dan menanyakan kabar. Katanya, mbakyu kurang mendapat perhatian dari Kang Banun. Kakang lebih senang ngurusi mobil kuno itu.
Pak Banun : Oalah…Tak pikir ada apa to. Tadi Mbakyu-mu itu juga uring-uringan lagi masalah jip itu. Kemarin dia juga begitu. Sepertinya dia cemburu dengan mobilku itu. Lah kalian ini kok ya sama saja seperti istriku. La wong mobil tua saja kok jadi masalah begini.
Pak Warso : Bukan begitu, Kang. Tapi…
Ny. Warso : O ya. Ngomong-ngomong, kenapa Kang Banun sepertinya sayang sekali dengan jip tua itu. Apa ndak dijual saja?
Pak Warso : Iya. Kenapa to, Kang? Saya kok jadi penasaran.
Ratna dan
Koko : Wah. Paman Banun punya mobil bagus ya, Ayah?
Pak Warso : Iya. Coba dengarkan cerita pamanmu.
Pak Banun : Hm…(mantan Letkol Banun mulai bertutur) Dulu, waktu aku masih 17 tahun, ya…sekitar tahun 1947, aku ditangkap tentara Belanda. Aku dianggap sebagai teroris, ekstremis bejat, dan tubuhku disiksa oleh mereka. Lama-lama..akhirnya aku mengaku saja agar tidak semakin disiksa. Setelah dua minggu aku ditahan, aku dipanggil dan dibawa mereka untuk menghadap komandan, namanya Van den Bosch. Komandan itu bertanya, berapa umurku. Ku jawab saja 16 tahun. Lalu dia bilang, tidak baik kalau anak-anak membawa senjata. Dia lalu menyuruhku membersihkan kendaraan di rumahnya. Khususnya, jip komandan itu. Suatu ketika, aku merasa dijebaknya. Tetapi pada akhirnya aku diselamatkan oleh salah seorang nelayan. Iparku, (katanya meneruskan cerita sambil menghela napas panjang) Kau tahu? Jip ini mengingatkan aku selalu pada Van den Bosch. Dulu aku tertarik sekali dengan mobilnya. Tapi sayang, dulu aku tidak bisa memilikinya. Kalu jip punyaku nanti sudah selesai dilengkapi dan diperbaiki oleh Rahmat, akan kutulis besar-besar dari ujung kiri ke ujung kanan di atas nomor pelat: Van den Bosch. Dan di bagian atasnya akan kukibarkan bendera merah putih yang terbuat dari bahan pelat yang sebesar bendera biasa.
Pak Warso : Hm… Jadi begitu toh, Kang.
(Di tengah pembicaraan Pak Banun dengan iparnya, Ny. Nur datang membawakan minuman dan makanan ringan)
Ny. Nur : Oalah Pak..Pak. Aku jadi ndak bisa tidur gara-gara suaramu yang keras sekali itu. Kok ya masa lalu terus yang dibicarakan. Sesekali mbok ya masa depan gitu, lo Pak. Kau ini sudah tua. Sudah bau tanah.
Pak Banun : Sudah to, Ma. Jangan marah-marah lagi. Ini lo, adik-adik kita berkunjung ke rumah kok malah ngajak ribut to, kamu ini.
Ny. Nur : Iya, iya, Pak. Oh ya. Apa kalian mau makan siang bersama kami di sini? Monggo. Ayo toh.
Ny. Warso : Ndak usah repot-repot, Mbakyu. Sebentar lagi kami mau pergi.
Ny. Nur : Kok cepat sekali to. Memangnya kalian mau ke mana?
Pak Warso : Kami mau rekreasi keluarga, Mbakyu. Ini kan hari Minggu, mumpung anak-anak liburan. Ya sekalian saja tadi kami mampir sebentar ke rumah Mbakyu.
Pak Banun : Ya kalau begitu, hati-hati kalian di Jalan. Ojo ngebut-ngebut bawa kendaraan.
Ny. Nur : Ati-ati yo, Dik.
Pak Warso
dan Ny. Warso: Kami pamit nggih, Mbakyu. Monggo…
Ny. Warso : Terima kasih lo Mbakyu, Kang Banun. (Pak Warso dan keluarganya pun berlalu pergi)
Babak III
Satu bulan berlalu, akhirnya jip tua Pak Banun tinggal finishing di bengkel milik anaknya, Rahmat. Di bengkel itu, Pak Banun tampak gembira sekali. Ia juga telah memasang tulisan Van den Bosch dan bendera merah putih di mobil kunonya itu.
Pak Banun : Walah Le..Le. Kau memang anak lelakiku yang paling apik, cah bagus tenan. Kau berhasil menyulap mobil kuno bapakmu ini jadi lebih baik. Ayo, sekarang kita coba berkeliling kota bersama ibumu naik jipku ini. Tentu kau yang menyetir yo, Le. Bapak sudah lama tidak mengajak ibumu jalan-jalan.
Rahmat : Inggih, Bapak. Saya ikut senang kalau Bapak juga senang.
(Pak Banun segera menuju rumahnya untuk menemui istrinya dan mengajaknya menikmati jip kesayangannya itu.)
Di rumah Pak Banun…
Pak Banun : Ma, Cepat keluar Ma. Jangan di dapur saja. Ini lo, aku datang bersama Rahmat. Jip tuaku yang kuno itu sekarang telah selesai disulapnya menjadi lebih bagus, Ma. Coba ke sini, ayo lihatlah!
(sudah 10 menit, tak ada jawaban dri dalam rumah)
Rahmat : Ibu kok lama sekali ya, Pak? Kita masuk ke dalam saja menjemput Ibu ya, Pak.
Pak Banun : Ayo. (bergegas masuk rumah bersama anaknya)
Rahmat : Pak, cepat ke sini Pak!
Pak Banun : (terkejut) Lah kok ibumu tidur di lantai toh, Le?
Rahmat : (sambil memeriksa denyut nadi di tangan dan leher ibunya) Pak…(matanya berkaca-kaca) Ibu sudah tidak bernapas lagi.. Ibu telah tiada…
Pak Banun : (terkejut dan terkulai lemas di samping istri dan anaknya) Ma… aku mau ajak kau jalan-jalan dengan jipku…(menangis dan memeluk jasad istrinya yang terbujur kaku di lantai) Maafkan aku, Ma. Aku terlalu sibuk mengurusi mobil itu. Aku lupa, aku kurang memerhatikanmu, juga kesehatanmu, Ma…
Rahmat : Ikhlaskan saja, Pak. Ibu harus segera dimakamkan.
Pak Banun : Le, dulu ibumu pernah bilang, agar aku menjual jipku itu…Begini Le, nanti setelah pemakaman ibumu, cepatlah kau jual mobil kuno itu. Terserah kau jual berapa dan uangnya untukmu saja, biar istri dan anak-anakmu senang. Bahagiakanlah istrimu, jangan seperti bapakmu ini… (menangis) Maafkan Bapak yo, Le.. Bapak sudah terlalu banyak merepotkanmu…Bapak…sangat mencintai ibumu, Le. Tapi Bapak terlalu sibuk dengan mobil tua itu…Bapak minta maaf, yo Le..(menangis penuh penyesalan)
Rahmat : Bapak… (memeluk Bapak dan jenazah ibunya). Sudah lah, Pak. Saya ikhlas, dan Bapak juga harus mengikhlaskan kepergian ibu. Baiklah, Pak. Nanti akan kujual jip itu. Tapi Bapak harus ikut tinggal bersamaku. Jangan tinggal sendirian di rumah Bapak, ya?
SELESAI
Jumat, 27 November 2009
KEHENDAK DAN PENDERITAAN TOKOH SANTIAGO DALAM NOVEL THE ALCHEMIST (SANG ALKEMIS) KARYA PAULO COELHO
(Pendekatan Filsafat Kehendak - Arthur Schopenhauer)
Oleh: Pramita Jaya E. T (072144004)/ SRN ‘07
Pengantar
The Alchemist (Sang Alkemis) - sebuah novel yang telah terjual lebih dari 43 juta copy di seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam 56 bahasa, karya Paulo Coelho (seorang pengarang kelahiran Brazil) ini - telah memberikan inspirasi bagi banyak bangsa di dunia. Paulo Coelho menggambarkan kehendak dan penderitaan tokoh utama (Santiago) secara folosofis. Berawal dari kehendak Santiago untuk berkelana hingga mengalami berbagai penderitaan dalam mencapai harta karunnya. Saya akan menganalisa kesemua itu dengan berlandaskan pada teori filsafat kehendak - Arthur Schopenhauer (seorang filsuf dari Danzig, Jerman Timur).
Isi
Schopenhauer menekankan bahwa manusia didorong oleh kehendak untuk hidup. Ingatan, badan, dan tabiat, semua itu ditentukan oleh kehendak sebagai “melodi dasar” hidup kita. Kehendak itu sangat kuat, semua fungsi badan membutuhkan istirahat dan tidur untuk melaksanakan tugas-tugas mereka. Hanya kehendak yang tidak pernah lelah. Kehendak tidak pernah tidur dan mengurus terus-menerus tugas jantung, paru-paru, dan seterusnya (Hamersma, 1992:60--61).
Menurut Schopenhauer, manusia menemukan di dalam dirinya bahwa kehendaklah yang menjadi daya pendorong, yang naik dari bagian tak sadar ke bagian sadar. Oleh karena itu kehendak adalah bagian hidup yang terdalam. Bagian hidup yang terdalam ini dapat menampilkan diri sebagai kehendak yang lebih tinggi dan kehendak yang lebih rendah. Kehendak tampil sebagai kehendak yang lebih tinggi di dalam pikiran, yang menjadi objek di dalam diri manusia, yang menyebabkan adanya gagasan-gagasan tentang dunia. Juga tubuh manusia dapat tampak sebagai gagasan, menjadi objek pandangan akal, menjadi objek di antara obyek-obyek yang lain. Kehendak tampil sebagai kehendak yang lebih rendahdi dalam perbuatan tubuh yang dapat diamati. Dalam hal ini perbuatan kehendak dan aktivitas tubuh bukan dua hal yang dihubungkan secara kausal (yang satu menyebabkan lain), sebab keduanya adalah sama, identik. Aktifitas tubuh tidak lain adalah perbuatan kehendak yang telah diperagakan, yang telah diobyektivir. Dengan demikian tubuh tidak lain adalah kehendak yang telah diobyektivir dalam ruang dan waktu. Kehendak itu mendorong pelayannya, ialah akal. Karena kehendak yang tidak disadari itulah manusia didorong untuk hidup. Kehendak ini sama sekali tidak dapat berubah dan mendasari segala gagasan kita. Ingatan kita juga hanya berfungsi sebagai pelayan kehendak. Kehendak tidak mengenal payah, karena kehendak terjadi tanpa kesadaran, seperti halnya jalannya jantung, pernapasan, juga tidak pernah payah. Demikianlah pada hakikatnya manusia adalah kehendak (Hadiwijono, 1911:107).
Sedangkan yang mendorong dua individu untuk kawin, itu kehendak hidup dari jenis. Cinta kasih itu hanya suatu alat dari alam untuk mempertahankan jenis-jenis agar keseimbangan dalam jenis terjamin secara optimal (Hamersma, 1992:61). Maka sebenarnya pusat kehendak berada di dalam genitalia, yaitu tempat nafsu seksual. Apa sebab dua orang yang berbeda jenisnya begitu tertarik yang seorang kepada yang lain? Tidak lain karena kehendak untuk hidup yang terjelma dalam jenisnya (Hadiwijono, 1911:107--108).
Jikalau dunia dipandang sebagai kehendak, maka hidup adalah penderitaan. Hal ini disebabkan karena kehendak tiada batasnya, sedang pemuasannya adalah terbatas. Akibatnya ialah bahwa manusia diserahkan kepada nafsu-nafsu dan keinginan-keinginan, sehingga tiada kebahagiaan pada manusia. Itulah sebabnya kenyataan hidup adalah penderitaan. Demikianlah dibelenggu oleh kehendaknya. Agar manusia dapat bahagia, ia harus membebaskan diri dari belenggu kehendaknya dan dari perbudakan kehendak perorangan. Hal ini memang mungkin, sebab manusia dapat menjadi pelaku atau subyek pengetahuan yang murni, tanpa dibelenggu oleh kehendaknya (Hadiwijono, 1911:108--109).
Kehendak itu tak terhingga, tetapi kemungkinan-kemungkinan untuk memuaskannya terbatas. Oleh karena itu hidup kita penuh frustasi. Kita tidak akan dapat ketenangan hati selama kita dikuasai oleh keinginan-keinginan dan nafsu-nafsu. Hidup adalah penderitaan terus-menerus. Dan, makin tinggi makhluk, makin besar penderitaannya (Hamersma, 1992:62).
Schopenhauer lebih berbicara tentang kehendak untuk lebih memahami diri atau individu. Schopenhauer berbicara tentang kehendak dalam hubungannya dengan tubuh. Tanpa tubuh, tak akan pernah ada kehendak. Tubuh mendahului kehendak dan kehendak ditempatkan sebagai manifestasi dari tubuh. Dan, segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak disebut derita (penderitaan). (http://musyawarahbuku.wordpress.com/2008/01/16/tentang-kehendak/)
Dapat disimpulkan bahwa manusia adalah kehendak itu sendiri yang memerintahkan akal sebagai pelayan kehendak – yang menyebabkan tubuh melakukan tindakan dan jika secara terus menerus menimbulkan penderitaan.
Kehendak-kehendak tokoh utama (Santiago) dalam novel The Alchemist (Sang Alkemis) dapat dilihat dari:
1. Dia menyadari, dia merasakan sesuatu yang belum pernah dialaminya: hasrat untuk menetap di suatu tempat, selama-lamanya. Bersama gadis berambut hitam kelam ini, hari-harinya takkan pernah sama lagi (Coelho, 2008:11).
2. Kehendak hidupnya adalah berkelana (Coelho, 2008:13).
3. Percakapan Santiago dengan ayahnya, “Tapi aku ingin melihat kastil-kastil di kota-kota asal mereka,” si anak lelaki menjelaskan (Coelho, 2008:15).
4. “Aku juga ingin melihat negeri mereka serta cara hidup mereka,“ sahut anaknya (Coelho, 2008:15).
5. “Kalau begitu, aku mau menjadi gembala saja.” (Coelho, 2008:15).
6. ….dia harus mempersiapkan diri untuk bertemu gadis ini; dia tidak mau membayangkan kemungkinan ada gembala lain – yang punya domba lebih banyak – tiba lebih dulu di sana dan meminang gadis itu (Coelho, 2008:17).
7. Yang membuat hidup ini menarik adalah mewujudkan impian menjadi kenyataa, pikirnya….(Lalu Santiago menemui perempuan di Tarifa: ingin menafsirkan mimpinya) (P. Coelho, 2008:17--22).
8. Percakapan Santiago dengan Melkisedek, Raja dari Salem: “Walaupun yang kuinginkan hanyalah berkelana? Atau menikah dengan putrid si saudagar kain?” (Coelho, 2008:30).
9. Dia harus memilih antara cara hidup yang telah begitu dikenalnya dan sesuatu yang ingin dimilikinya (Coelho, 2008:37).
10. Kemudian si anak lelaki mengatakan bahwa dia hendak pergi ke piramida-piramida itu.” (Coelho, 2008:48).
11. Dia teringat pagi tadi, ketika matahari terbit, dia masih menjadi anak gembala yang memiliki enam puluh ekor domba, dan hendak bertemu sorang gadis. (Coelho, 2008:52)
12. “Aku petualang yang hendak mencari harta karun,” (Coelho, 2008:56).
13. Semalam dia sudah memutuskan akan menjadi seperti tokoh-tokoh petualang yang dikaguminya di buku-buku.” (Coelho, 2008:57).
14. “Aku ingin secepatnya menjadi gembala lagi.” (Coelho, 2008:70).
15. Pernyataan bahwa Santiago masih ingin pergi mencari harta karunnya: Apa salahnya mencoba mendatangi gudang si pemasok, untuk mencari tahu apakah Piramida-Piramida itu memang jauh? (Coelho, 2008:85).
16. “Tapi aku hendak ke Mesir,” kata si anak (Santiago) (Coelho, 2008:91).
17. “Aku mencari harta karun,” kata si anak, yang segera menyesali ucapannya (Coelho, 2008:91).
18. Tapi ketika si anak hendak mempelajari cara mencapai Karya Agung, dia benar-benar bingung (Coelho, 2008:106).
19. Keesokan harinya anak itu kembali ke sumur tersebut, berharap bertemu lagi dengan gadis itu (Coelho, 2008:122).
20. “Aku ingin kau menjadi istriku. Aku mencintaimu.” (Coelho, 2008:123).
21. Anak itu datang ke sumur tiap hari untuk bertemu dengan Fatima (Coelho, 2008:124).
22. Si anak lelaki hendak meraih tangan Fatima (Coelho, 2008:125).
23. “Tapi aku akan mencari harta karunku,” kata si anak. “Dan sekarang aku sudah sangat dekat.” (Coelho, 2008:199).
24. Kehendak Santiago untuk menemui Fatima di akhir cerita: “Tunggu aku, Fatima,” katanya (Coelho, 2008:213).
Penderitaan-penderitaan yang dialami oleh Santiago dalam novel The Alchemist (Sang Alkemis) dapat dilihat dari:
1. Dia bukan lagi anak gembala, dan dia tidak punya apa-apa, tidak juga punya uang untuk pulang dan memulai hidup baru (Coelho, 2008:52).
2. Dia begitu malu, hingga ingin menangis.…..Dia menangis karena Tuhan begitu tidak adil, dan karena beginilah ganjaran Tuhan pada orang-orang yang meyakini impian-impian mereka (Coelho, 2008:52).
3. “Tapi sekarang aku sedih dan sendirian….sebab aku terlalu lemah dan tidak bakal bisa menaklukkan dunia.” (Coelho, 2008:53).
4. Saat ini dia berada di pasar yang kosong melompong, tanpa satu pun domba untuk dijaganya sepanjang malam (Coelho, 2008:54).
5. Santiago terpaksa bekerja di sebuah toko kristal karena ia sudah tidak punya uang sepeser pun: “Aku akan bekerja sepanjang malam, sampai subuh,….Sebagai imbalannya aku butuh uang untuk berangkat ke Mesir besok.” (Coelho, 2008:62).
6. Si anak lelaki merasa sedih ketika berpisah dengan Fatima pada hari itu (Coelho, 2008:127).
7. Dia cemas akan apa yang telah terjadi…..dan sekarang ada kemungkinan dia harus membayar dengan nyawanya. Pertaruhan yang menakutkan (Coelho, 2008:140).
8. Pertemuan Santiago dengan Sang Alkemis yang pada awalnya seperti berusaha membunuhnya: …dia menundukkan kepala, siap menerima tebasan pedang itu. Orang asing itu menarik pedangnya dari dahi si anak, dan anak itu merasa sangat lega. Tapi dia masih tetap tak sanggup melarikan diri (Coelho, 2008:142--143).
9. Meneruskan pencarian harta karun ini berarti dia harus meninggalkan Fatima.”Aku ingin tetap tinggal di Oasis itu,” sahut si anak. “Aku telah menemukan Fatima, dan bagiku dia lebih berharga daripada harta karun.” (Coelho, 2008:153).
10. Sulit untuk tidak memikirkan apa yang telah dia tinggalkan di belakang (Coelho, 2008:159).
11. …mereka sudah mendekati daerah yang dicabik-cabik pertempuran-pertempuran paling dahsyat. Bukan hal mudah; pada masa-masa awal dulu, hatinya selalu siap menyampaikan ceritanya, tapi akhir-akhir ini tidak lagi. “Tetapi hatiku gelisah,” kata si anak. “Hatiku menyimpan mimpi-mimpi, menjadi emosional, dan mendambakan seorang wanita gurun. Hatiku meminta banyak hal, dan membuatku tak bisa tidur bermalam-malam saat aku memikirkan wanita itu.” (Coelho, 2008:165).
12. “Hatiku takut menderita,” si anak berkata pada sang alkemis pada suatu malam, ketika mereka menatap langit tak berbulan (Coelho, 2008:167).
13. Mereka dibawa ke sebuah perkemahan militer yang tidak jauh dari sana. Seorang prajurit mendorong si anak dan sang alkemis ke dalam kemah tempat pimpinan pasukan sedang mengadakan pertemuan dengan para stafnya (Coelho, 2008:178).
14. “Kau memberikan segala harta milikku pada mereka!” kata si anak. “Seluruh harta yang telah kusimpan selama hidupku!”….Tapi anak itu terlalu takut dan tak bias menyerap kata-kata bijak itu (Coelho, 2008:181).
15. “Kalau aku tak bisa mengubah diriku menjadi angin, kita akan mati,” kata si anak (Coelho, 2008:183).
16. “Sedang apa kau di sini?” salah satu sosok itu bertanya. Karena ketakutan, si anak tidak menjawab. Dia telah menemukan harta karunnya, dan merasa takut membayangkan yang bakal terjadi (Coelho, 2008:207).
17. Mereka menyuruh anak itu terus menggali, tapi dia tidak menemukan apa-apa. Saat matahari terbit, orang-orang itu memukulinya. Dia babak belur dan berdarah-darah, pakaiannya koyak-koyak, dan dia merasa ajalnya sudah dekat……Anak itu terjerembab ke pasir, hampir-hampir tak sadarkan diri. Pimpinan kelompok itu mengguncang-guncang dan berkata, “Kami akan pergi.” (Coelho, 2008:208).
18. Kemarahan Santiago terhadap peramal di Tarifa: Rahib itu tertawa melihat ketika melihatku dating dengan pakaian compang-camping. Tidak bisakah kau menghindarkan aku dari nasib itu? (Coelho, 2008:211).
Santiago telah meninggalkan keluarganya hanya demi satu kehendak: berkelana. Akalnya berpikir untuk menjadi anak gembala (melayani kehendaknya). Maka tubuhnya melakukan (bertindak): membeli domba-domba dan mulai berkelana ke mana saja.
Santiago berkehendak: ingin menemui seorang gadis (anak penjual kain di Tarifa). Akalnya berpikir: bagaimana caranya untuk menarik hati si gadis. Maka tubuhnya mengambil tindakan: bercukur (mempersiapkan diri agar tampak rapi di depan si gadis).
Santiago mendapatkan mimpi dua kali yang serupa. Maka muncullah kehendak: ingin menafsirkan mimpinya. Akalnya berpikir untuk menemui seorang perempuan di Tarifa-yang dikenal sebagai peramal handal. Maka tubuhnya melakukan tindakan: pergi ke Tarifa dan menanyakan perihal mimpinya kepada perempuan itu.
Ketika Santiago berkehendak: menikahi Fatima, akalnya berpikir bagaimana cara mewujudkannya, tentu agar dia lebih dekat dengan Fatima. Maka tubuhnya bertindak: sering menemui Fatima di sebuah sumur di oasis dan menceritakan banyak hal tentang dirinya kepada perempuan yang dicintainya itu. Ia juga menyatakan cintanya kepada Fatima. Inilah yang dimaksud oleh Schopenhauer: dorongan dua individu untuk kawin, itu kehendak hidup dari jenis.
Kehendak Santiago untuk menemukan harta karunnya di Piramida-Piramida di Mesir mendapatkan banyak tantangan dan rintangan. Sampai-sampai akalnya banyak memikirkan hal-hal yang membuatnya selalu bimbang: tetap menjadi gembala saja atau harus menemukan harta karunnya.
Setelah ia mengalami penderitaan (sampai-sampai ia menangis dan menganggap bahwa Tuhan tidak adil): seluruh uang di kantongnya dicuri oleh seorang pemuda Arab di Afrika, akal Santiago berpikir bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan uang kembali untuk memutuskan: ia kembali menjadi gembala saja atau harus berusaha terus untuk mencari harta karunnya. Lalu tubuhnya bertindak: bekerja di sebuah toko kristal.
Ketika Santiago merasa mendapatkan petanda bahwa akan ada bahaya di Oasis, banyak orang-orang yang meragukannya karena menurut tradisi, Oasis adalah tempat aman (peperangan tidak boleh dilakukan di Oasis). Maka ia harus bertaruh nyawa: jika dugaannya benar, ia akan memperoleh emas dan jika salah, ia harus mati ditembak sebagai hukuman. Ia cemas akan peristiwa yang terjadi di Oasis. Kecemasan Santiago ini adalah penderitaannya. Ketakutan Santiago terhadap orang asing yang ditemuinya (sang alkemis)-yang pada awalnya seperti berusaha membunuhnya juga menimbulkan panderitaan baginya.
Santiago takut menderita, ia takut gagal mendapatkan harta karunnya sebab ia telah meninggalkan Fatima (perempuan yang dicintainya) demi perjuangan mendapatkan harta karunnya itu. Hal ini membuat ia selalu gelisah dan tidak bisa tidur. Lalu ia bertemu tentara parang dan dibawa ke sebuah perkemahan militer. Di sana, san alkemis memberikan segala harta milik Santiago kepada para tentara itu untuk mendapatkan waktu hidup selama tiga hari sampai ia bisa menunjukkan kemampuannya: mengubah dirinya menjadi angin. Maka penderitaan Santiago semakin bertambah seiring dengan kuatnya kehendaknya mencapai harta karunnya.
Santiago babak belur dan merasa ajalnya sudah dekat, ia hampir-hampir tak sadarkan diri setelah para pemuda menyuruhnya menggali pasir dekat Piramida-Piramida, tetapi ia tidak menemukan apa-apa. Lalu mereka merampok emas-emas di tasnya (yang ia dapatkan dari sang alkemis). Ia merasa dipermainkan oleh peramal di Tarifa: sebab ia tahu bahwa harta karunnya berada di tempat ia menghabiskan waktunya bersama domba-dombanya dahulu. Penderitaannya bertambah ketika ia harus kembali ke gereja untuk menemui Rahib dan mengambil emas (agar ia bisa kembali pulang ke Andalusia dan menemukan harta karunnya) dengan pakaian compang-camping dan ditertawakan oleh Rahib itu.
Dalam novel ini juga ada pernyataan yang menunjukkan adanya hubungan antara kehendak dan penderitaan, yaitu: “Sementara itu, si anak lelaki memikirkan harta karunnya. Semakin dekat dia pada perwujudan impiannya, semakin sulit situasi-situasi yang dihadapinya…Dalam usahanya mengejar impian itu, ada-ada saja cobaan yang dialaminya, untuk menguji keteguhan hati serta keberaniannya.” (Coelho, 2008:115).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa “semakin tinggi pohon, maka semakin kencang angin yang bertiup menerpanya…” Semakin tinggi kehendak Santiago untuk menemukan harta karunnya, maka semakin banyak penderitaan-penderitaan yang di alaminya. Santiago telah memandang hidup sebagai kehendak, maka hidupnya adalah penderitaan. Hal ini disebabkan karena kehendak Santiago tiada batasnya, sedang pemuasannya adalah terbatas. Akibatnya ialah Santiago diserahkan kepada nafsu-nafsu dan keinginan-keinginan, sehingga tiada kebahagiaan pada dirinyaa. Itulah sebabnya kenyataan hidupnya adalah penderitaan. Santiago telah dibelenggu dan diperbudak kehendak perorangan (dirinya sendiri). Mulai dari keinginannya untuk berkelana dan mencari harta karun hingga nafsu cintanya (gelisah karena merindukan Fatima, berharap bisa meraih tangannya dan mendapat ciumannya meskipun hanya melalui angin, dan menikahi Fatima).
Kehendak itu tak terhingga, tetapi kemungkina-kemungkinan untuk memuaskannya terbatas. Oleh karena itu hidup kita penuh frustasi. Kita tidak akan dapat ketenangan hati selama kita dikuasai oleh keinginan-keinginan dan nafsu-nafsu.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan:
Manusia=Kehendak Pelayan Kehendak:Akal
Tubuh Bertindak
Santiago
Kehendak: Penderitaan:
1. Berkelana. 1. Uangnya dicuri oleh pemuda Arab.
2. Menemui seorang gadis di Tarifa. 2. Bertaruh nyawa di Oasis, cemas dan
3. Menafsirkan mimpinya. takut gagal, ditawan oleh tentara.
4. Memperoleh harta karun. 3. Berpisah dan meninggalkan Fatima
5. Bertemu dan menikahi Fatima. 4. Dirampok oleh pemuda di dekat
Piramida, ditertawakan oleh Rahib.
(Pendekatan Filsafat Kehendak - Arthur Schopenhauer)
Oleh: Pramita Jaya E. T (072144004)/ SRN ‘07
Pengantar
The Alchemist (Sang Alkemis) - sebuah novel yang telah terjual lebih dari 43 juta copy di seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam 56 bahasa, karya Paulo Coelho (seorang pengarang kelahiran Brazil) ini - telah memberikan inspirasi bagi banyak bangsa di dunia. Paulo Coelho menggambarkan kehendak dan penderitaan tokoh utama (Santiago) secara folosofis. Berawal dari kehendak Santiago untuk berkelana hingga mengalami berbagai penderitaan dalam mencapai harta karunnya. Saya akan menganalisa kesemua itu dengan berlandaskan pada teori filsafat kehendak - Arthur Schopenhauer (seorang filsuf dari Danzig, Jerman Timur).
Isi
Schopenhauer menekankan bahwa manusia didorong oleh kehendak untuk hidup. Ingatan, badan, dan tabiat, semua itu ditentukan oleh kehendak sebagai “melodi dasar” hidup kita. Kehendak itu sangat kuat, semua fungsi badan membutuhkan istirahat dan tidur untuk melaksanakan tugas-tugas mereka. Hanya kehendak yang tidak pernah lelah. Kehendak tidak pernah tidur dan mengurus terus-menerus tugas jantung, paru-paru, dan seterusnya (Hamersma, 1992:60--61).
Menurut Schopenhauer, manusia menemukan di dalam dirinya bahwa kehendaklah yang menjadi daya pendorong, yang naik dari bagian tak sadar ke bagian sadar. Oleh karena itu kehendak adalah bagian hidup yang terdalam. Bagian hidup yang terdalam ini dapat menampilkan diri sebagai kehendak yang lebih tinggi dan kehendak yang lebih rendah. Kehendak tampil sebagai kehendak yang lebih tinggi di dalam pikiran, yang menjadi objek di dalam diri manusia, yang menyebabkan adanya gagasan-gagasan tentang dunia. Juga tubuh manusia dapat tampak sebagai gagasan, menjadi objek pandangan akal, menjadi objek di antara obyek-obyek yang lain. Kehendak tampil sebagai kehendak yang lebih rendahdi dalam perbuatan tubuh yang dapat diamati. Dalam hal ini perbuatan kehendak dan aktivitas tubuh bukan dua hal yang dihubungkan secara kausal (yang satu menyebabkan lain), sebab keduanya adalah sama, identik. Aktifitas tubuh tidak lain adalah perbuatan kehendak yang telah diperagakan, yang telah diobyektivir. Dengan demikian tubuh tidak lain adalah kehendak yang telah diobyektivir dalam ruang dan waktu. Kehendak itu mendorong pelayannya, ialah akal. Karena kehendak yang tidak disadari itulah manusia didorong untuk hidup. Kehendak ini sama sekali tidak dapat berubah dan mendasari segala gagasan kita. Ingatan kita juga hanya berfungsi sebagai pelayan kehendak. Kehendak tidak mengenal payah, karena kehendak terjadi tanpa kesadaran, seperti halnya jalannya jantung, pernapasan, juga tidak pernah payah. Demikianlah pada hakikatnya manusia adalah kehendak (Hadiwijono, 1911:107).
Sedangkan yang mendorong dua individu untuk kawin, itu kehendak hidup dari jenis. Cinta kasih itu hanya suatu alat dari alam untuk mempertahankan jenis-jenis agar keseimbangan dalam jenis terjamin secara optimal (Hamersma, 1992:61). Maka sebenarnya pusat kehendak berada di dalam genitalia, yaitu tempat nafsu seksual. Apa sebab dua orang yang berbeda jenisnya begitu tertarik yang seorang kepada yang lain? Tidak lain karena kehendak untuk hidup yang terjelma dalam jenisnya (Hadiwijono, 1911:107--108).
Jikalau dunia dipandang sebagai kehendak, maka hidup adalah penderitaan. Hal ini disebabkan karena kehendak tiada batasnya, sedang pemuasannya adalah terbatas. Akibatnya ialah bahwa manusia diserahkan kepada nafsu-nafsu dan keinginan-keinginan, sehingga tiada kebahagiaan pada manusia. Itulah sebabnya kenyataan hidup adalah penderitaan. Demikianlah dibelenggu oleh kehendaknya. Agar manusia dapat bahagia, ia harus membebaskan diri dari belenggu kehendaknya dan dari perbudakan kehendak perorangan. Hal ini memang mungkin, sebab manusia dapat menjadi pelaku atau subyek pengetahuan yang murni, tanpa dibelenggu oleh kehendaknya (Hadiwijono, 1911:108--109).
Kehendak itu tak terhingga, tetapi kemungkinan-kemungkinan untuk memuaskannya terbatas. Oleh karena itu hidup kita penuh frustasi. Kita tidak akan dapat ketenangan hati selama kita dikuasai oleh keinginan-keinginan dan nafsu-nafsu. Hidup adalah penderitaan terus-menerus. Dan, makin tinggi makhluk, makin besar penderitaannya (Hamersma, 1992:62).
Schopenhauer lebih berbicara tentang kehendak untuk lebih memahami diri atau individu. Schopenhauer berbicara tentang kehendak dalam hubungannya dengan tubuh. Tanpa tubuh, tak akan pernah ada kehendak. Tubuh mendahului kehendak dan kehendak ditempatkan sebagai manifestasi dari tubuh. Dan, segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak disebut derita (penderitaan). (http://musyawarahbuku.wordpress.com/2008/01/16/tentang-kehendak/)
Dapat disimpulkan bahwa manusia adalah kehendak itu sendiri yang memerintahkan akal sebagai pelayan kehendak – yang menyebabkan tubuh melakukan tindakan dan jika secara terus menerus menimbulkan penderitaan.
Kehendak-kehendak tokoh utama (Santiago) dalam novel The Alchemist (Sang Alkemis) dapat dilihat dari:
1. Dia menyadari, dia merasakan sesuatu yang belum pernah dialaminya: hasrat untuk menetap di suatu tempat, selama-lamanya. Bersama gadis berambut hitam kelam ini, hari-harinya takkan pernah sama lagi (Coelho, 2008:11).
2. Kehendak hidupnya adalah berkelana (Coelho, 2008:13).
3. Percakapan Santiago dengan ayahnya, “Tapi aku ingin melihat kastil-kastil di kota-kota asal mereka,” si anak lelaki menjelaskan (Coelho, 2008:15).
4. “Aku juga ingin melihat negeri mereka serta cara hidup mereka,“ sahut anaknya (Coelho, 2008:15).
5. “Kalau begitu, aku mau menjadi gembala saja.” (Coelho, 2008:15).
6. ….dia harus mempersiapkan diri untuk bertemu gadis ini; dia tidak mau membayangkan kemungkinan ada gembala lain – yang punya domba lebih banyak – tiba lebih dulu di sana dan meminang gadis itu (Coelho, 2008:17).
7. Yang membuat hidup ini menarik adalah mewujudkan impian menjadi kenyataa, pikirnya….(Lalu Santiago menemui perempuan di Tarifa: ingin menafsirkan mimpinya) (P. Coelho, 2008:17--22).
8. Percakapan Santiago dengan Melkisedek, Raja dari Salem: “Walaupun yang kuinginkan hanyalah berkelana? Atau menikah dengan putrid si saudagar kain?” (Coelho, 2008:30).
9. Dia harus memilih antara cara hidup yang telah begitu dikenalnya dan sesuatu yang ingin dimilikinya (Coelho, 2008:37).
10. Kemudian si anak lelaki mengatakan bahwa dia hendak pergi ke piramida-piramida itu.” (Coelho, 2008:48).
11. Dia teringat pagi tadi, ketika matahari terbit, dia masih menjadi anak gembala yang memiliki enam puluh ekor domba, dan hendak bertemu sorang gadis. (Coelho, 2008:52)
12. “Aku petualang yang hendak mencari harta karun,” (Coelho, 2008:56).
13. Semalam dia sudah memutuskan akan menjadi seperti tokoh-tokoh petualang yang dikaguminya di buku-buku.” (Coelho, 2008:57).
14. “Aku ingin secepatnya menjadi gembala lagi.” (Coelho, 2008:70).
15. Pernyataan bahwa Santiago masih ingin pergi mencari harta karunnya: Apa salahnya mencoba mendatangi gudang si pemasok, untuk mencari tahu apakah Piramida-Piramida itu memang jauh? (Coelho, 2008:85).
16. “Tapi aku hendak ke Mesir,” kata si anak (Santiago) (Coelho, 2008:91).
17. “Aku mencari harta karun,” kata si anak, yang segera menyesali ucapannya (Coelho, 2008:91).
18. Tapi ketika si anak hendak mempelajari cara mencapai Karya Agung, dia benar-benar bingung (Coelho, 2008:106).
19. Keesokan harinya anak itu kembali ke sumur tersebut, berharap bertemu lagi dengan gadis itu (Coelho, 2008:122).
20. “Aku ingin kau menjadi istriku. Aku mencintaimu.” (Coelho, 2008:123).
21. Anak itu datang ke sumur tiap hari untuk bertemu dengan Fatima (Coelho, 2008:124).
22. Si anak lelaki hendak meraih tangan Fatima (Coelho, 2008:125).
23. “Tapi aku akan mencari harta karunku,” kata si anak. “Dan sekarang aku sudah sangat dekat.” (Coelho, 2008:199).
24. Kehendak Santiago untuk menemui Fatima di akhir cerita: “Tunggu aku, Fatima,” katanya (Coelho, 2008:213).
Penderitaan-penderitaan yang dialami oleh Santiago dalam novel The Alchemist (Sang Alkemis) dapat dilihat dari:
1. Dia bukan lagi anak gembala, dan dia tidak punya apa-apa, tidak juga punya uang untuk pulang dan memulai hidup baru (Coelho, 2008:52).
2. Dia begitu malu, hingga ingin menangis.…..Dia menangis karena Tuhan begitu tidak adil, dan karena beginilah ganjaran Tuhan pada orang-orang yang meyakini impian-impian mereka (Coelho, 2008:52).
3. “Tapi sekarang aku sedih dan sendirian….sebab aku terlalu lemah dan tidak bakal bisa menaklukkan dunia.” (Coelho, 2008:53).
4. Saat ini dia berada di pasar yang kosong melompong, tanpa satu pun domba untuk dijaganya sepanjang malam (Coelho, 2008:54).
5. Santiago terpaksa bekerja di sebuah toko kristal karena ia sudah tidak punya uang sepeser pun: “Aku akan bekerja sepanjang malam, sampai subuh,….Sebagai imbalannya aku butuh uang untuk berangkat ke Mesir besok.” (Coelho, 2008:62).
6. Si anak lelaki merasa sedih ketika berpisah dengan Fatima pada hari itu (Coelho, 2008:127).
7. Dia cemas akan apa yang telah terjadi…..dan sekarang ada kemungkinan dia harus membayar dengan nyawanya. Pertaruhan yang menakutkan (Coelho, 2008:140).
8. Pertemuan Santiago dengan Sang Alkemis yang pada awalnya seperti berusaha membunuhnya: …dia menundukkan kepala, siap menerima tebasan pedang itu. Orang asing itu menarik pedangnya dari dahi si anak, dan anak itu merasa sangat lega. Tapi dia masih tetap tak sanggup melarikan diri (Coelho, 2008:142--143).
9. Meneruskan pencarian harta karun ini berarti dia harus meninggalkan Fatima.”Aku ingin tetap tinggal di Oasis itu,” sahut si anak. “Aku telah menemukan Fatima, dan bagiku dia lebih berharga daripada harta karun.” (Coelho, 2008:153).
10. Sulit untuk tidak memikirkan apa yang telah dia tinggalkan di belakang (Coelho, 2008:159).
11. …mereka sudah mendekati daerah yang dicabik-cabik pertempuran-pertempuran paling dahsyat. Bukan hal mudah; pada masa-masa awal dulu, hatinya selalu siap menyampaikan ceritanya, tapi akhir-akhir ini tidak lagi. “Tetapi hatiku gelisah,” kata si anak. “Hatiku menyimpan mimpi-mimpi, menjadi emosional, dan mendambakan seorang wanita gurun. Hatiku meminta banyak hal, dan membuatku tak bisa tidur bermalam-malam saat aku memikirkan wanita itu.” (Coelho, 2008:165).
12. “Hatiku takut menderita,” si anak berkata pada sang alkemis pada suatu malam, ketika mereka menatap langit tak berbulan (Coelho, 2008:167).
13. Mereka dibawa ke sebuah perkemahan militer yang tidak jauh dari sana. Seorang prajurit mendorong si anak dan sang alkemis ke dalam kemah tempat pimpinan pasukan sedang mengadakan pertemuan dengan para stafnya (Coelho, 2008:178).
14. “Kau memberikan segala harta milikku pada mereka!” kata si anak. “Seluruh harta yang telah kusimpan selama hidupku!”….Tapi anak itu terlalu takut dan tak bias menyerap kata-kata bijak itu (Coelho, 2008:181).
15. “Kalau aku tak bisa mengubah diriku menjadi angin, kita akan mati,” kata si anak (Coelho, 2008:183).
16. “Sedang apa kau di sini?” salah satu sosok itu bertanya. Karena ketakutan, si anak tidak menjawab. Dia telah menemukan harta karunnya, dan merasa takut membayangkan yang bakal terjadi (Coelho, 2008:207).
17. Mereka menyuruh anak itu terus menggali, tapi dia tidak menemukan apa-apa. Saat matahari terbit, orang-orang itu memukulinya. Dia babak belur dan berdarah-darah, pakaiannya koyak-koyak, dan dia merasa ajalnya sudah dekat……Anak itu terjerembab ke pasir, hampir-hampir tak sadarkan diri. Pimpinan kelompok itu mengguncang-guncang dan berkata, “Kami akan pergi.” (Coelho, 2008:208).
18. Kemarahan Santiago terhadap peramal di Tarifa: Rahib itu tertawa melihat ketika melihatku dating dengan pakaian compang-camping. Tidak bisakah kau menghindarkan aku dari nasib itu? (Coelho, 2008:211).
Santiago telah meninggalkan keluarganya hanya demi satu kehendak: berkelana. Akalnya berpikir untuk menjadi anak gembala (melayani kehendaknya). Maka tubuhnya melakukan (bertindak): membeli domba-domba dan mulai berkelana ke mana saja.
Santiago berkehendak: ingin menemui seorang gadis (anak penjual kain di Tarifa). Akalnya berpikir: bagaimana caranya untuk menarik hati si gadis. Maka tubuhnya mengambil tindakan: bercukur (mempersiapkan diri agar tampak rapi di depan si gadis).
Santiago mendapatkan mimpi dua kali yang serupa. Maka muncullah kehendak: ingin menafsirkan mimpinya. Akalnya berpikir untuk menemui seorang perempuan di Tarifa-yang dikenal sebagai peramal handal. Maka tubuhnya melakukan tindakan: pergi ke Tarifa dan menanyakan perihal mimpinya kepada perempuan itu.
Ketika Santiago berkehendak: menikahi Fatima, akalnya berpikir bagaimana cara mewujudkannya, tentu agar dia lebih dekat dengan Fatima. Maka tubuhnya bertindak: sering menemui Fatima di sebuah sumur di oasis dan menceritakan banyak hal tentang dirinya kepada perempuan yang dicintainya itu. Ia juga menyatakan cintanya kepada Fatima. Inilah yang dimaksud oleh Schopenhauer: dorongan dua individu untuk kawin, itu kehendak hidup dari jenis.
Kehendak Santiago untuk menemukan harta karunnya di Piramida-Piramida di Mesir mendapatkan banyak tantangan dan rintangan. Sampai-sampai akalnya banyak memikirkan hal-hal yang membuatnya selalu bimbang: tetap menjadi gembala saja atau harus menemukan harta karunnya.
Setelah ia mengalami penderitaan (sampai-sampai ia menangis dan menganggap bahwa Tuhan tidak adil): seluruh uang di kantongnya dicuri oleh seorang pemuda Arab di Afrika, akal Santiago berpikir bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan uang kembali untuk memutuskan: ia kembali menjadi gembala saja atau harus berusaha terus untuk mencari harta karunnya. Lalu tubuhnya bertindak: bekerja di sebuah toko kristal.
Ketika Santiago merasa mendapatkan petanda bahwa akan ada bahaya di Oasis, banyak orang-orang yang meragukannya karena menurut tradisi, Oasis adalah tempat aman (peperangan tidak boleh dilakukan di Oasis). Maka ia harus bertaruh nyawa: jika dugaannya benar, ia akan memperoleh emas dan jika salah, ia harus mati ditembak sebagai hukuman. Ia cemas akan peristiwa yang terjadi di Oasis. Kecemasan Santiago ini adalah penderitaannya. Ketakutan Santiago terhadap orang asing yang ditemuinya (sang alkemis)-yang pada awalnya seperti berusaha membunuhnya juga menimbulkan panderitaan baginya.
Santiago takut menderita, ia takut gagal mendapatkan harta karunnya sebab ia telah meninggalkan Fatima (perempuan yang dicintainya) demi perjuangan mendapatkan harta karunnya itu. Hal ini membuat ia selalu gelisah dan tidak bisa tidur. Lalu ia bertemu tentara parang dan dibawa ke sebuah perkemahan militer. Di sana, san alkemis memberikan segala harta milik Santiago kepada para tentara itu untuk mendapatkan waktu hidup selama tiga hari sampai ia bisa menunjukkan kemampuannya: mengubah dirinya menjadi angin. Maka penderitaan Santiago semakin bertambah seiring dengan kuatnya kehendaknya mencapai harta karunnya.
Santiago babak belur dan merasa ajalnya sudah dekat, ia hampir-hampir tak sadarkan diri setelah para pemuda menyuruhnya menggali pasir dekat Piramida-Piramida, tetapi ia tidak menemukan apa-apa. Lalu mereka merampok emas-emas di tasnya (yang ia dapatkan dari sang alkemis). Ia merasa dipermainkan oleh peramal di Tarifa: sebab ia tahu bahwa harta karunnya berada di tempat ia menghabiskan waktunya bersama domba-dombanya dahulu. Penderitaannya bertambah ketika ia harus kembali ke gereja untuk menemui Rahib dan mengambil emas (agar ia bisa kembali pulang ke Andalusia dan menemukan harta karunnya) dengan pakaian compang-camping dan ditertawakan oleh Rahib itu.
Dalam novel ini juga ada pernyataan yang menunjukkan adanya hubungan antara kehendak dan penderitaan, yaitu: “Sementara itu, si anak lelaki memikirkan harta karunnya. Semakin dekat dia pada perwujudan impiannya, semakin sulit situasi-situasi yang dihadapinya…Dalam usahanya mengejar impian itu, ada-ada saja cobaan yang dialaminya, untuk menguji keteguhan hati serta keberaniannya.” (Coelho, 2008:115).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa “semakin tinggi pohon, maka semakin kencang angin yang bertiup menerpanya…” Semakin tinggi kehendak Santiago untuk menemukan harta karunnya, maka semakin banyak penderitaan-penderitaan yang di alaminya. Santiago telah memandang hidup sebagai kehendak, maka hidupnya adalah penderitaan. Hal ini disebabkan karena kehendak Santiago tiada batasnya, sedang pemuasannya adalah terbatas. Akibatnya ialah Santiago diserahkan kepada nafsu-nafsu dan keinginan-keinginan, sehingga tiada kebahagiaan pada dirinyaa. Itulah sebabnya kenyataan hidupnya adalah penderitaan. Santiago telah dibelenggu dan diperbudak kehendak perorangan (dirinya sendiri). Mulai dari keinginannya untuk berkelana dan mencari harta karun hingga nafsu cintanya (gelisah karena merindukan Fatima, berharap bisa meraih tangannya dan mendapat ciumannya meskipun hanya melalui angin, dan menikahi Fatima).
Kehendak itu tak terhingga, tetapi kemungkina-kemungkinan untuk memuaskannya terbatas. Oleh karena itu hidup kita penuh frustasi. Kita tidak akan dapat ketenangan hati selama kita dikuasai oleh keinginan-keinginan dan nafsu-nafsu.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan:
Manusia=Kehendak Pelayan Kehendak:Akal
Tubuh Bertindak
Santiago
Kehendak: Penderitaan:
1. Berkelana. 1. Uangnya dicuri oleh pemuda Arab.
2. Menemui seorang gadis di Tarifa. 2. Bertaruh nyawa di Oasis, cemas dan
3. Menafsirkan mimpinya. takut gagal, ditawan oleh tentara.
4. Memperoleh harta karun. 3. Berpisah dan meninggalkan Fatima
5. Bertemu dan menikahi Fatima. 4. Dirampok oleh pemuda di dekat
Piramida, ditertawakan oleh Rahib.
Minggu, 22 November 2009
PUISIKU TEMPOE DOELOE
LELAKI IMAJI
Kau berdiri di pesisir pantai
Memandang,merasakan ombak,angina
Yang berdesir menyapamu
Kau yang mencintai kebebasan
Kesejukan yang bernaung di hatimu,
Buatku membuka tirai kehidupan
Hey Pemudaku,
Kau lelaki yang penuh misteri
Kau yang jadikan bintang dan sekar jiwaku menari
Berontak dan berani jalani hidup
Karena kau tonggakku tuk berdiri
SAJAK NANAR
Kau tersudut di balik jeruji besi
Sendiri, bungkam merangkul sunyi
Tumpahkan saja segala getir hidupmu, Kawan!
Ingin kudekap erat kau
Hingga habislah dukamu
Tumbangkan saja tembok hitam itu
Bakar segala tingkah tengik mereka
Kembalilah,
ku ajak kau mereguk mimpi…
UNTUK KAWAN
Kawan, siluet panjang
tlah antarkan kita pada satu titik
Berlarilah
Pukul genta hidupmu keras-keras
Rebut sekar edelweis
tuk keabadian kita
Inilah hidup, Kawan!
SURAU HATI
ku menunggu di surau hati
dengan kerudung putih
sebagai penyejuk jiwa
ku menunggu di surau hati
dengan iringan kumandang azan
di mukadimah Tuhan
ku menunggu di surau hati
dengan kalam ilahi
doa yang kupersembahkan untukmu
pemuda yang kurangkul lembut kasihnya
ku menunggu di surau hati
dengan niat suci yang tertambat oleh rindu
ku menunggu di surau hati
karena ku mencintaimu..
BAMBU RUNCING
Terkenang tempo dulu
Suara peluru
Menyayat bagai sembilu
Bermodal bambu
Tumbangkan musuh
Berkejaran dengan waktu
Merangkul tujuan yang : Satu
Arek-arek bermata elang
Merebut malam
Rapatkan barisan
Beserta impian
Merengkuh kepastian
Meski darah menganak sungai
Tapi tekad jadi perisai
Hingga merdeka tercapai
KAKEK PEMINTA-MINTA
Di trotoar,
kau mengharap welas
Di trotoar,
kau meminta asih
Di trotoar,
kau cari sesuap nasi
Di trotoar,
kaki lumpuhmu terseret
Di trotoar,
Kau dicampakkan
oleh mereka yang penuh biadab
Tanganmu menengadah
Jiwamu meronta
Kuberi kau seribu rupiah,
Kau balas doa yang berlimpah
Kuberi kau dua ribu rupiah,
Kau mengajakku berdialog
Tentang pahitnya hidup
Dan ganasnya kapitalisme
Dan rezim-rezim orde baru berkuasa
Tak kuberi kau rupiah,
Senyum maafku terucap
Lalu kau bilang,
“Gapailah impianmu, Nak!”
UNTUK HIDUP
Tuhan,
Ini malam, erat kudekap dalam sujudku
Tuhan,
Ini hamba yang bersimpuh ragu
Tuhan,
Ragu aku : tak bisa bersyukur dan berpaling darimu
Tuhan
galauku sungguh.
PALESTINA
Tidakkah kau melihat?
Mayat-mayat bergelimpangan
Anak-anak yang kehilangan ibunya
Sang Ayah yang menggendong mayat anaknya
Sang Ibu menjerit, “Bangun, Nak! Bangun!!”
dengan tangisnya yang memilukan,
memekakkan telinga bagi tiap insan yang mendengar
rintihan, jerit tangis mereka…
Tapi, Ah! Apa daya… Sang Anak hanya diam seribu bahasa,
Tubuhnya kaku, meregang nyawa…
Mereka telah terenggut oleh kejamnya peperangan
Dor! Dor! Dor!
Beribu kali suara tembakan yang maha dahsyat!
Blum! Blum! Blum!
Ledakan Bom meluluhlantakkan negeri mereka!
Lihat!
Para gadis dan janda di sana!
Jilbab-jilbab mereka dipaksa kaum Zionis
tuk ditanggalkan…
Biadab! Bajingan! Sungguh, betapa kejamnya peperangan
Mencabik-cabik ribuan nyawa… Mengoyak-oyak iman…
Agama menjadi taruhan…
GALAU BUNDA
Bunda menghilang
tak kunjung datang
pergi bersama luka yang
terus membayang
Bunda menanti
dalam gundah hati
ia tak peduli,
meski noda lalu melekat pada nurani
Bunda berdiri dalam penantian
hadirkan impian beserta angan
di balik hiruk pikuk kepalsuan
Bunda yakin secercah sinar
kan menghampiri jiwa yang galau gusar
sebab kasihnya selalu ada
di tiap langkah kehidupan…
(03 April 2008)
FAJAR MILIK IBU
Fajar menyapa hari
Fajar menyapu duri
yang jadi racun dalam sanubari
Fajar tak henti menengok, lalu belok
di tengah hamparan
sungai yang berkelok
Fajar tepati janji
hangatkan Ibu seusai subuh menghampiri
Fajar dalam genggaman,
tapi Ibu ragu
dalam sujud Ibu terpaku, membisu
berselimut jiwa yang kelu
(Januari 2008)
BELENGGU SANG DEWI MALAM
Picik nur mata, bertelekan riang
menutup hangar bingar kota
di atas ranjang mawar yang membusuk
seperti bangkai berserakan
Suka sejatinya duka
Rayu sejatinya pilu
tak peduli hitam nodai jiwa
pun tak peduli putih tertutup
oleh belenggu kalbu
Sayap-sayap nan elok tetap melekat pada tubuh-tubuh ramping
Sang Dewi Malam…
(16 Februari 2008)
GERIMIS
Gerimis bukanlah tangis
Gerimis bukan pula gemericik air
tapi ialah mendung,
pedih tiada ujung
di tiap relung-relung
jiwa yang murung.
(Desember 2007)
AJAL SI MBOK
Izrail di sandingku
Menatap Si Mbok dalam pembaringan
di sisi tabung oksigen, infus dan
komputer penghitung maut
‘ku tertunduk…
doa hati berkecamuk
batinku remuk
mengamuk
‘ku tinggalkan Si Mbok sendiri
menikmati sisa nyawa
Malaikat itu tak punya welas
Tak peduli merahku, sedu sedan meratap
Keesokan hari…
Sang Surya merangkul Si Mbok mencekik harapan
Akhir berita bersama angin hitam
Berbisik lirih, pahit, mengiris.
‘ku antarkan Si Mbok
bibir merah, mata berbinar-binar
tapi teriakku tertahan. Pilu.
di atas gundukan anyar nan semerbak…
PERMINTAAN
Dahulu sangsai jadikanku abu
Air mukaku kosong. Perih.
Lalu engkau semaikan lagi
beserta sekar-sekar yang tumbuh
di surau kecil hatimu
Tumpat saja nadimu dengan darahku
Pasang saja lentera pada
permadani hidup kita
Nyanyikan tembang pilihan
di atas bianglala
Masih tentatif, memang.
Tapi ini mauku.maumu.
Yakinku.yakinmu.
(270208)
SEPASANG MATA NILA
Nila lihat kelam
Nila lihat mendung legam
Nila lihat kabut pekat
Lihat Nila, lihat nyata
Nila lihat jadi nyata
Bukan. Bukan salah mata Nila
Ini takdir.
Itu takdir.
Ya. Takdir Tuhan
terlukis pada diri Nila
(Januari 2008)
BENCI
Benci ku dengan laut pasang
Benci ku dengan padang ilalang
yang menghalangi pandang
Benci ku dengan kerikil tajam
yang menghujam garang
Benci.Sepi.
Hilang ku nanar.
Penat ku akan pekat
yang membekas. Mencekat
Duri merobek sanubari
yang ingin bisu dan tuli
dari segala hiruk pikuk duniawi
Marah ku pada angin
yang tak bisa sampaikan benciku
(Maret 2008)
KEMILAU
Hilang.
Hangus.
Terbakar.
Tak ada warna hidup
yang terlukis di sana.
Hancur tak berbentuk.
Jiwaku remuk redam,
mati dalam kehampaan jiwa…
Sejenak terbangun,
Mencari kepingan
Mencari serpihan
Sungguh lelah…
tak berdaya…
Seperti daging,
Amat busuk.
Seperti ikan,
gosong di wajan penggorengan.
Ah!ku benci diriku
terpuruk dalam kenistaan…
Lalu terpaku…
Melihat kemilau begitu indah…
Selangkah demi selangkah, kudekati
Seketika nodaku terhapus
Kan ku jaga cahaya suci ini,
agar tak padam…
Ku pasrahkan jiwa raga ini,
Hanya kepada-Nya,
Allah, Tuhan yang ku cinta…
(Maret 2007)
MATAHARIKU
Matahariku telah pulang
Mencumbu ombak di kala senja
Indah,menantang
Bersama kuda pelana
Pasir pun ikut mengintip.
(170909)
Meja Biru
Waktu di tembok berdetak
Tuk.Tuk.Tik.Tik.tersentak
Kertas dan pena menyatu
Mengajakku berseteru
Lalu, ku ambil kursi
Seketika ada yang menari
di atas meja biru, seakan berduri
(070909)
SEKAR KELABU
Demi mereka yang sekarat
Hingga hati terkoyak, menyayat
Demi mereka yang sibuk
mengantar mayat-mayat remuk
Demi mereka yang hancur
luluh lantak: lebur
Jadi abu: bisu, kaku.
Dan, pilu…
Demi mereka yang menangis
karena orang-orang Zionis
Ku kirim seuntai sekar kelabu
dengan pita hitam
diiringi doa mengharu biru
sambut hari kelam
Untuk mereka di Gaza,
yang berderai air mata
berselimut angin duka
(01-01-09)
CINTA DAN SURAU
Bianglala semakin nakal
Mengendap-endap melewati
sekar-sekar yang tumbuh di surau
Seketika berbisik jiwa kita, lirih...
“Indah nian kasih...”
(01-11-09)
RANJANG MAWAR
(untuk kado pernikahan Winarsih)
Lampu temaram berkedip malu-malu
di keheningan malam lalu
Kasih mendesah syahdu
Dalam diam, ia tarik kainku satu satu
Nafas semakin mengaduh, mendayu
Ah...ranjang kita semakin berbunyi
Memainkan irama, menari-nari
Mawar kita menyala-nyala
Dalam remang bianglala
Ah...gembira meronta
(01-10-09)
Kau berdiri di pesisir pantai
Memandang,merasakan ombak,angina
Yang berdesir menyapamu
Kau yang mencintai kebebasan
Kesejukan yang bernaung di hatimu,
Buatku membuka tirai kehidupan
Hey Pemudaku,
Kau lelaki yang penuh misteri
Kau yang jadikan bintang dan sekar jiwaku menari
Berontak dan berani jalani hidup
Karena kau tonggakku tuk berdiri
SAJAK NANAR
Kau tersudut di balik jeruji besi
Sendiri, bungkam merangkul sunyi
Tumpahkan saja segala getir hidupmu, Kawan!
Ingin kudekap erat kau
Hingga habislah dukamu
Tumbangkan saja tembok hitam itu
Bakar segala tingkah tengik mereka
Kembalilah,
ku ajak kau mereguk mimpi…
UNTUK KAWAN
Kawan, siluet panjang
tlah antarkan kita pada satu titik
Berlarilah
Pukul genta hidupmu keras-keras
Rebut sekar edelweis
tuk keabadian kita
Inilah hidup, Kawan!
SURAU HATI
ku menunggu di surau hati
dengan kerudung putih
sebagai penyejuk jiwa
ku menunggu di surau hati
dengan iringan kumandang azan
di mukadimah Tuhan
ku menunggu di surau hati
dengan kalam ilahi
doa yang kupersembahkan untukmu
pemuda yang kurangkul lembut kasihnya
ku menunggu di surau hati
dengan niat suci yang tertambat oleh rindu
ku menunggu di surau hati
karena ku mencintaimu..
BAMBU RUNCING
Terkenang tempo dulu
Suara peluru
Menyayat bagai sembilu
Bermodal bambu
Tumbangkan musuh
Berkejaran dengan waktu
Merangkul tujuan yang : Satu
Arek-arek bermata elang
Merebut malam
Rapatkan barisan
Beserta impian
Merengkuh kepastian
Meski darah menganak sungai
Tapi tekad jadi perisai
Hingga merdeka tercapai
KAKEK PEMINTA-MINTA
Di trotoar,
kau mengharap welas
Di trotoar,
kau meminta asih
Di trotoar,
kau cari sesuap nasi
Di trotoar,
kaki lumpuhmu terseret
Di trotoar,
Kau dicampakkan
oleh mereka yang penuh biadab
Tanganmu menengadah
Jiwamu meronta
Kuberi kau seribu rupiah,
Kau balas doa yang berlimpah
Kuberi kau dua ribu rupiah,
Kau mengajakku berdialog
Tentang pahitnya hidup
Dan ganasnya kapitalisme
Dan rezim-rezim orde baru berkuasa
Tak kuberi kau rupiah,
Senyum maafku terucap
Lalu kau bilang,
“Gapailah impianmu, Nak!”
UNTUK HIDUP
Tuhan,
Ini malam, erat kudekap dalam sujudku
Tuhan,
Ini hamba yang bersimpuh ragu
Tuhan,
Ragu aku : tak bisa bersyukur dan berpaling darimu
Tuhan
galauku sungguh.
PALESTINA
Tidakkah kau melihat?
Mayat-mayat bergelimpangan
Anak-anak yang kehilangan ibunya
Sang Ayah yang menggendong mayat anaknya
Sang Ibu menjerit, “Bangun, Nak! Bangun!!”
dengan tangisnya yang memilukan,
memekakkan telinga bagi tiap insan yang mendengar
rintihan, jerit tangis mereka…
Tapi, Ah! Apa daya… Sang Anak hanya diam seribu bahasa,
Tubuhnya kaku, meregang nyawa…
Mereka telah terenggut oleh kejamnya peperangan
Dor! Dor! Dor!
Beribu kali suara tembakan yang maha dahsyat!
Blum! Blum! Blum!
Ledakan Bom meluluhlantakkan negeri mereka!
Lihat!
Para gadis dan janda di sana!
Jilbab-jilbab mereka dipaksa kaum Zionis
tuk ditanggalkan…
Biadab! Bajingan! Sungguh, betapa kejamnya peperangan
Mencabik-cabik ribuan nyawa… Mengoyak-oyak iman…
Agama menjadi taruhan…
GALAU BUNDA
Bunda menghilang
tak kunjung datang
pergi bersama luka yang
terus membayang
Bunda menanti
dalam gundah hati
ia tak peduli,
meski noda lalu melekat pada nurani
Bunda berdiri dalam penantian
hadirkan impian beserta angan
di balik hiruk pikuk kepalsuan
Bunda yakin secercah sinar
kan menghampiri jiwa yang galau gusar
sebab kasihnya selalu ada
di tiap langkah kehidupan…
(03 April 2008)
FAJAR MILIK IBU
Fajar menyapa hari
Fajar menyapu duri
yang jadi racun dalam sanubari
Fajar tak henti menengok, lalu belok
di tengah hamparan
sungai yang berkelok
Fajar tepati janji
hangatkan Ibu seusai subuh menghampiri
Fajar dalam genggaman,
tapi Ibu ragu
dalam sujud Ibu terpaku, membisu
berselimut jiwa yang kelu
(Januari 2008)
BELENGGU SANG DEWI MALAM
Picik nur mata, bertelekan riang
menutup hangar bingar kota
di atas ranjang mawar yang membusuk
seperti bangkai berserakan
Suka sejatinya duka
Rayu sejatinya pilu
tak peduli hitam nodai jiwa
pun tak peduli putih tertutup
oleh belenggu kalbu
Sayap-sayap nan elok tetap melekat pada tubuh-tubuh ramping
Sang Dewi Malam…
(16 Februari 2008)
GERIMIS
Gerimis bukanlah tangis
Gerimis bukan pula gemericik air
tapi ialah mendung,
pedih tiada ujung
di tiap relung-relung
jiwa yang murung.
(Desember 2007)
AJAL SI MBOK
Izrail di sandingku
Menatap Si Mbok dalam pembaringan
di sisi tabung oksigen, infus dan
komputer penghitung maut
‘ku tertunduk…
doa hati berkecamuk
batinku remuk
mengamuk
‘ku tinggalkan Si Mbok sendiri
menikmati sisa nyawa
Malaikat itu tak punya welas
Tak peduli merahku, sedu sedan meratap
Keesokan hari…
Sang Surya merangkul Si Mbok mencekik harapan
Akhir berita bersama angin hitam
Berbisik lirih, pahit, mengiris.
‘ku antarkan Si Mbok
bibir merah, mata berbinar-binar
tapi teriakku tertahan. Pilu.
di atas gundukan anyar nan semerbak…
PERMINTAAN
Dahulu sangsai jadikanku abu
Air mukaku kosong. Perih.
Lalu engkau semaikan lagi
beserta sekar-sekar yang tumbuh
di surau kecil hatimu
Tumpat saja nadimu dengan darahku
Pasang saja lentera pada
permadani hidup kita
Nyanyikan tembang pilihan
di atas bianglala
Masih tentatif, memang.
Tapi ini mauku.maumu.
Yakinku.yakinmu.
(270208)
SEPASANG MATA NILA
Nila lihat kelam
Nila lihat mendung legam
Nila lihat kabut pekat
Lihat Nila, lihat nyata
Nila lihat jadi nyata
Bukan. Bukan salah mata Nila
Ini takdir.
Itu takdir.
Ya. Takdir Tuhan
terlukis pada diri Nila
(Januari 2008)
BENCI
Benci ku dengan laut pasang
Benci ku dengan padang ilalang
yang menghalangi pandang
Benci ku dengan kerikil tajam
yang menghujam garang
Benci.Sepi.
Hilang ku nanar.
Penat ku akan pekat
yang membekas. Mencekat
Duri merobek sanubari
yang ingin bisu dan tuli
dari segala hiruk pikuk duniawi
Marah ku pada angin
yang tak bisa sampaikan benciku
(Maret 2008)
KEMILAU
Hilang.
Hangus.
Terbakar.
Tak ada warna hidup
yang terlukis di sana.
Hancur tak berbentuk.
Jiwaku remuk redam,
mati dalam kehampaan jiwa…
Sejenak terbangun,
Mencari kepingan
Mencari serpihan
Sungguh lelah…
tak berdaya…
Seperti daging,
Amat busuk.
Seperti ikan,
gosong di wajan penggorengan.
Ah!ku benci diriku
terpuruk dalam kenistaan…
Lalu terpaku…
Melihat kemilau begitu indah…
Selangkah demi selangkah, kudekati
Seketika nodaku terhapus
Kan ku jaga cahaya suci ini,
agar tak padam…
Ku pasrahkan jiwa raga ini,
Hanya kepada-Nya,
Allah, Tuhan yang ku cinta…
(Maret 2007)
MATAHARIKU
Matahariku telah pulang
Mencumbu ombak di kala senja
Indah,menantang
Bersama kuda pelana
Pasir pun ikut mengintip.
(170909)
Meja Biru
Waktu di tembok berdetak
Tuk.Tuk.Tik.Tik.tersentak
Kertas dan pena menyatu
Mengajakku berseteru
Lalu, ku ambil kursi
Seketika ada yang menari
di atas meja biru, seakan berduri
(070909)
SEKAR KELABU
Demi mereka yang sekarat
Hingga hati terkoyak, menyayat
Demi mereka yang sibuk
mengantar mayat-mayat remuk
Demi mereka yang hancur
luluh lantak: lebur
Jadi abu: bisu, kaku.
Dan, pilu…
Demi mereka yang menangis
karena orang-orang Zionis
Ku kirim seuntai sekar kelabu
dengan pita hitam
diiringi doa mengharu biru
sambut hari kelam
Untuk mereka di Gaza,
yang berderai air mata
berselimut angin duka
(01-01-09)
CINTA DAN SURAU
Bianglala semakin nakal
Mengendap-endap melewati
sekar-sekar yang tumbuh di surau
Seketika berbisik jiwa kita, lirih...
“Indah nian kasih...”
(01-11-09)
RANJANG MAWAR
(untuk kado pernikahan Winarsih)
Lampu temaram berkedip malu-malu
di keheningan malam lalu
Kasih mendesah syahdu
Dalam diam, ia tarik kainku satu satu
Nafas semakin mengaduh, mendayu
Ah...ranjang kita semakin berbunyi
Memainkan irama, menari-nari
Mawar kita menyala-nyala
Dalam remang bianglala
Ah...gembira meronta
(01-10-09)
Langganan:
Postingan (Atom)