SERDADU TUA DAN JIPNYA
(Sebuah Naskah Drama: Diadopsi Dari Cerpen “Serdadu Tua dan Jipnya Karya Wilson Nadeak)
Babak I
Di beranda rumah sebuah keluarga sederhana, mantan Letnan Kolonel Banun sedang asyik membaca surat kabar sambil memandangi mobil tuanya yang ia parkir di halaman rumahnya. Lalu Ny.Nur, istrinya, datang membawakan secangkir kopi hangat untuknya.
Ny. Nur : (sambil meletakkan secangkir kopi di meja). Mbok ya sudah to, Pak! Apa gunanya ngurusi mobil tua itu. (Lalu duduk di samping suaminya). Mau makan apa kita, kalau uang pensiunanmu dihabiskan sia-sia saja. Heh…Cuma buat merawat istri keduamu itu toh. Iya toh. Hidup tambah susah Pak, kita juga sudah tua, sakit-sakitan. Wis kepala pitu, bau tanah. Mbok ya jangan kau tambah beban kita ini. (cemberut)
Pak Banun : Sudah lah, Ma. Hei..Hey.. Kau cemburu ya dengan mobil kesayanganku itu? (memandangi istrinya penuh selidik, lalu mengedipkan sebelah mata).
Ny. Nur : Ah. Buat apa to. Sudah tua begini kok cemburu segala. Apalagi sama jip tua itu.
Pak Banun : Lo. Kalau bukan cemburu, lantas apa namanya? Selama ini kau selalu saja mempersoalkan hobiku buat merawat dan mempercantik jip punyaku itu.
Ny. Nur : Pak, mbok ya sampeyan itu berhenti ngeloni mobilmu itu. Kita ini sudah tua, sudah saatnya menikmati masa tua kita. Kau selalu saja bebani anak kita untuk membuat jip itu bias berjalan lagi. Lihat saja bannya sangat besar dan mahal. Onderdilnya susah dicari. Mesinnya harus bongkar pasang dari awal. Kenapa sih kok repot-repot, Pak. Ngerepotin si Rahmat juga. Mbok ya ingat dengan kesehatanmu. Uang pensiunanmu dan uang dari anak-anak kita bisa habis cuma buat jip tua bangkotan itu. Apalagi kau sering menyuruh Rahmat memperbaiki mobil itu di bengkelnya. Bisa bangkrut toh dia itu, Pak. Kasihan anak kita.
Pak Banun : Ma, masalah uang itu tidak usah kau pikirkan. Dengar, Ma. Rejeki itu datangnya dari Tuhan. Kalau uang kita habis, kita ya masih bisa makan nasi sama kangkung, tempe-tahu. Iya toh? Malah bagus buat kesehatan kita. Kita juga masih dapat jatah bulanan dari anak-anak kita yang lain. Nggak cuma dari Rahmat. Tapi Siti dan Indah juga ngasih kita uang toh, meskipun mereka sekarang sudah di luar kota. Sudah lah, Ma. Nanti kau akan lihat, kelak mobil tuaku ini akan membawa keberuntungan buat kita.
Ny. Nur : Heh.. Keberuntungan apa toh, Pak?
Pak Banun : Kau tahu? Kemarin, Pak Noto, tetangga kita yang kaya itu sudah menawar jipku ini hamper satu milyar! 1 M, loh Ma. Lah lumayan toh. Belum tentu juga kita bisa menghabiskan uang sebanyak itu di sisa umur kita. Ya, toh?
Ny. Nur : Wah. Bagus itu Pak. La tapi kok jip itu masih ada di halaman rumah kita? Apa kau belum menyerahkannya pada Pak Noto?
Pak Banun : Harga itu masih rendah buat jip itu. Lagipula… Ah aku masih saying sekali dengan mobil kuno itu, Ma. Terlalu banyak kenanganku bersama jip itu sewaktu aku masih menjadi Letkol dulu.
Ny. Nur : (sambil mengurut dadanya yang naik turun sedari tadi) Ealah…Haduh Gusti..Piye to bojoku iki.. Yo wis Pak. Sak karepmu. Terserah Pak’e saja lah. Aku ini sudah capek menasehati kamu, Pak.
Pak Banun : He, Dik Nur…Jantungmu itu jangan sampai kumat gara-gara terlalu serius mikir jip tua kesayanganku ini. Anggap saja, ini hiburan buat masa tua kita. Iya toh, Ma. Kau lihat kan, mobil Wilys milik anak kita si Rahmat itu, sudah seratus lima puluh orang yang dating melihat dan menawarnya dengan harga yang tinggi.
Ny. Nur : Kenapa nggak dijual saja sama dia, Pak? Uangnya kan bisa buat modal dagang istrinya. Selama ini istrinya tidak punya gawean sama sekali toh, bisanya cuma bergantung pada Rahmat.
Pak Banun : Sampai sekarang anak kita itu masih bertahan dengan harga yang diinginkannya. Entah berapa. Lagipula, dia masih senang merawat mobil Wily situ. Ya terserah dia to.
Ny. Nur : Yah. Kalau begitu aku tidur saja, Pak. Aku bosan menasehatimu. Jantungku nanti bisa tambah parah. (berlalu ke dalam rumah, hendak tidur di kamar, agar jantungnya tidak kumat lagi).
Pak Banun : (menggelengkan kepala, heran dengan tingkah istrinya)
Babak II
Keesokan paginya, di beranda rumah, Pak Banun yang sedang beristirahat di kursi goyang terlihat kelelahan setelah mengelap-ngelap mobil kuno kesayangannya. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan Warso, adik iparnya yang membawa serta istri (Ny. Warso) dan anak-anaknya (Ratna dan Koko) berkunjung ke rumahnya.
Pak Warso : Kang. Kang Banun. (membangunkan Pak Banun yang tertidur di kursi goyang) Lah kok tiduran di kursi to, Kang? Mbakyu di mana?
Pak Banun : Eh…(mengusap mata sambil menguap) Oh, Warso.. Ada. Mbakyumu ada di dalam. Mungkin dia masih tidur. Ayo, ayo masuk ke dalam.
Pak Warso : Masih belum bedug begini kok sudah tidur. Mbakyu sakit to, Kang? (sambil mengajak istri dan anak-anaknya duduk di ruang tamu)
Pak Banun : Iya, akhir-akhir ini jantungnya sering kumat. Sebaiknya jangan diganggu. Kalian mau minum apa?
Pak Warso : Ndak usah repot-repot, Kang. Sini, Kang. Saya mau bicara sebentar.
Pak Banun : Ada apa? Kok sepertinya penting sekali?
Pak Warso : Begini lo, Kang. Saya itu sebagai adik, kasihan melihat mbakyu-ku. Kakang sebaiknya lebih memerhatikan Mbak Nur, bukan malah sibuk sendiri dengan jip tua Kang Banun. Saya bukannya lancang dan ikut campur, Kang. Tapi sebagai ipar, saya ingin mengingatkan Kang Banun. Beberapa hari yang lalu, saya menelepon mbakyu dan menanyakan kabar. Katanya, mbakyu kurang mendapat perhatian dari Kang Banun. Kakang lebih senang ngurusi mobil kuno itu.
Pak Banun : Oalah…Tak pikir ada apa to. Tadi Mbakyu-mu itu juga uring-uringan lagi masalah jip itu. Kemarin dia juga begitu. Sepertinya dia cemburu dengan mobilku itu. Lah kalian ini kok ya sama saja seperti istriku. La wong mobil tua saja kok jadi masalah begini.
Pak Warso : Bukan begitu, Kang. Tapi…
Ny. Warso : O ya. Ngomong-ngomong, kenapa Kang Banun sepertinya sayang sekali dengan jip tua itu. Apa ndak dijual saja?
Pak Warso : Iya. Kenapa to, Kang? Saya kok jadi penasaran.
Ratna dan
Koko : Wah. Paman Banun punya mobil bagus ya, Ayah?
Pak Warso : Iya. Coba dengarkan cerita pamanmu.
Pak Banun : Hm…(mantan Letkol Banun mulai bertutur) Dulu, waktu aku masih 17 tahun, ya…sekitar tahun 1947, aku ditangkap tentara Belanda. Aku dianggap sebagai teroris, ekstremis bejat, dan tubuhku disiksa oleh mereka. Lama-lama..akhirnya aku mengaku saja agar tidak semakin disiksa. Setelah dua minggu aku ditahan, aku dipanggil dan dibawa mereka untuk menghadap komandan, namanya Van den Bosch. Komandan itu bertanya, berapa umurku. Ku jawab saja 16 tahun. Lalu dia bilang, tidak baik kalau anak-anak membawa senjata. Dia lalu menyuruhku membersihkan kendaraan di rumahnya. Khususnya, jip komandan itu. Suatu ketika, aku merasa dijebaknya. Tetapi pada akhirnya aku diselamatkan oleh salah seorang nelayan. Iparku, (katanya meneruskan cerita sambil menghela napas panjang) Kau tahu? Jip ini mengingatkan aku selalu pada Van den Bosch. Dulu aku tertarik sekali dengan mobilnya. Tapi sayang, dulu aku tidak bisa memilikinya. Kalu jip punyaku nanti sudah selesai dilengkapi dan diperbaiki oleh Rahmat, akan kutulis besar-besar dari ujung kiri ke ujung kanan di atas nomor pelat: Van den Bosch. Dan di bagian atasnya akan kukibarkan bendera merah putih yang terbuat dari bahan pelat yang sebesar bendera biasa.
Pak Warso : Hm… Jadi begitu toh, Kang.
(Di tengah pembicaraan Pak Banun dengan iparnya, Ny. Nur datang membawakan minuman dan makanan ringan)
Ny. Nur : Oalah Pak..Pak. Aku jadi ndak bisa tidur gara-gara suaramu yang keras sekali itu. Kok ya masa lalu terus yang dibicarakan. Sesekali mbok ya masa depan gitu, lo Pak. Kau ini sudah tua. Sudah bau tanah.
Pak Banun : Sudah to, Ma. Jangan marah-marah lagi. Ini lo, adik-adik kita berkunjung ke rumah kok malah ngajak ribut to, kamu ini.
Ny. Nur : Iya, iya, Pak. Oh ya. Apa kalian mau makan siang bersama kami di sini? Monggo. Ayo toh.
Ny. Warso : Ndak usah repot-repot, Mbakyu. Sebentar lagi kami mau pergi.
Ny. Nur : Kok cepat sekali to. Memangnya kalian mau ke mana?
Pak Warso : Kami mau rekreasi keluarga, Mbakyu. Ini kan hari Minggu, mumpung anak-anak liburan. Ya sekalian saja tadi kami mampir sebentar ke rumah Mbakyu.
Pak Banun : Ya kalau begitu, hati-hati kalian di Jalan. Ojo ngebut-ngebut bawa kendaraan.
Ny. Nur : Ati-ati yo, Dik.
Pak Warso
dan Ny. Warso: Kami pamit nggih, Mbakyu. Monggo…
Ny. Warso : Terima kasih lo Mbakyu, Kang Banun. (Pak Warso dan keluarganya pun berlalu pergi)
Babak III
Satu bulan berlalu, akhirnya jip tua Pak Banun tinggal finishing di bengkel milik anaknya, Rahmat. Di bengkel itu, Pak Banun tampak gembira sekali. Ia juga telah memasang tulisan Van den Bosch dan bendera merah putih di mobil kunonya itu.
Pak Banun : Walah Le..Le. Kau memang anak lelakiku yang paling apik, cah bagus tenan. Kau berhasil menyulap mobil kuno bapakmu ini jadi lebih baik. Ayo, sekarang kita coba berkeliling kota bersama ibumu naik jipku ini. Tentu kau yang menyetir yo, Le. Bapak sudah lama tidak mengajak ibumu jalan-jalan.
Rahmat : Inggih, Bapak. Saya ikut senang kalau Bapak juga senang.
(Pak Banun segera menuju rumahnya untuk menemui istrinya dan mengajaknya menikmati jip kesayangannya itu.)
Di rumah Pak Banun…
Pak Banun : Ma, Cepat keluar Ma. Jangan di dapur saja. Ini lo, aku datang bersama Rahmat. Jip tuaku yang kuno itu sekarang telah selesai disulapnya menjadi lebih bagus, Ma. Coba ke sini, ayo lihatlah!
(sudah 10 menit, tak ada jawaban dri dalam rumah)
Rahmat : Ibu kok lama sekali ya, Pak? Kita masuk ke dalam saja menjemput Ibu ya, Pak.
Pak Banun : Ayo. (bergegas masuk rumah bersama anaknya)
Rahmat : Pak, cepat ke sini Pak!
Pak Banun : (terkejut) Lah kok ibumu tidur di lantai toh, Le?
Rahmat : (sambil memeriksa denyut nadi di tangan dan leher ibunya) Pak…(matanya berkaca-kaca) Ibu sudah tidak bernapas lagi.. Ibu telah tiada…
Pak Banun : (terkejut dan terkulai lemas di samping istri dan anaknya) Ma… aku mau ajak kau jalan-jalan dengan jipku…(menangis dan memeluk jasad istrinya yang terbujur kaku di lantai) Maafkan aku, Ma. Aku terlalu sibuk mengurusi mobil itu. Aku lupa, aku kurang memerhatikanmu, juga kesehatanmu, Ma…
Rahmat : Ikhlaskan saja, Pak. Ibu harus segera dimakamkan.
Pak Banun : Le, dulu ibumu pernah bilang, agar aku menjual jipku itu…Begini Le, nanti setelah pemakaman ibumu, cepatlah kau jual mobil kuno itu. Terserah kau jual berapa dan uangnya untukmu saja, biar istri dan anak-anakmu senang. Bahagiakanlah istrimu, jangan seperti bapakmu ini… (menangis) Maafkan Bapak yo, Le.. Bapak sudah terlalu banyak merepotkanmu…Bapak…sangat mencintai ibumu, Le. Tapi Bapak terlalu sibuk dengan mobil tua itu…Bapak minta maaf, yo Le..(menangis penuh penyesalan)
Rahmat : Bapak… (memeluk Bapak dan jenazah ibunya). Sudah lah, Pak. Saya ikhlas, dan Bapak juga harus mengikhlaskan kepergian ibu. Baiklah, Pak. Nanti akan kujual jip itu. Tapi Bapak harus ikut tinggal bersamaku. Jangan tinggal sendirian di rumah Bapak, ya?
SELESAI
Gambatte Kudasai
BalasHapussemangat....!!!ceritanya baguss banget... tp sayang aku blom baca...
BalasHapus