Minggu, 22 November 2009

PUISIKU TEMPOE DOELOE

LELAKI IMAJI
Kau berdiri di pesisir pantai
Memandang,merasakan ombak,angina
Yang berdesir menyapamu
Kau yang mencintai kebebasan
Kesejukan yang bernaung di hatimu,
Buatku membuka tirai kehidupan
Hey Pemudaku,
Kau lelaki yang penuh misteri
Kau yang jadikan bintang dan sekar jiwaku menari
Berontak dan berani jalani hidup
Karena kau tonggakku tuk berdiri

SAJAK NANAR
Kau tersudut di balik jeruji besi
Sendiri, bungkam merangkul sunyi
Tumpahkan saja segala getir hidupmu, Kawan!
Ingin kudekap erat kau
Hingga habislah dukamu
Tumbangkan saja tembok hitam itu
Bakar segala tingkah tengik mereka
Kembalilah,
ku ajak kau mereguk mimpi…

UNTUK KAWAN
Kawan, siluet panjang
tlah antarkan kita pada satu titik
Berlarilah
Pukul genta hidupmu keras-keras
Rebut sekar edelweis
tuk keabadian kita
Inilah hidup, Kawan!

SURAU HATI
ku menunggu di surau hati
dengan kerudung putih
sebagai penyejuk jiwa
ku menunggu di surau hati
dengan iringan kumandang azan
di mukadimah Tuhan
ku menunggu di surau hati
dengan kalam ilahi
doa yang kupersembahkan untukmu
pemuda yang kurangkul lembut kasihnya
ku menunggu di surau hati
dengan niat suci yang tertambat oleh rindu
ku menunggu di surau hati
karena ku mencintaimu..

BAMBU RUNCING
Terkenang tempo dulu
Suara peluru
Menyayat bagai sembilu
Bermodal bambu
Tumbangkan musuh
Berkejaran dengan waktu
Merangkul tujuan yang : Satu

Arek-arek bermata elang
Merebut malam
Rapatkan barisan
Beserta impian
Merengkuh kepastian

Meski darah menganak sungai
Tapi tekad jadi perisai
Hingga merdeka tercapai

KAKEK PEMINTA-MINTA
Di trotoar,
kau mengharap welas
Di trotoar,
kau meminta asih
Di trotoar,
kau cari sesuap nasi
Di trotoar,
kaki lumpuhmu terseret
Di trotoar,
Kau dicampakkan
oleh mereka yang penuh biadab

Tanganmu menengadah
Jiwamu meronta

Kuberi kau seribu rupiah,
Kau balas doa yang berlimpah
Kuberi kau dua ribu rupiah,
Kau mengajakku berdialog
Tentang pahitnya hidup
Dan ganasnya kapitalisme
Dan rezim-rezim orde baru berkuasa
Tak kuberi kau rupiah,
Senyum maafku terucap
Lalu kau bilang,
“Gapailah impianmu, Nak!”


UNTUK HIDUP
Tuhan,
Ini malam, erat kudekap dalam sujudku
Tuhan,
Ini hamba yang bersimpuh ragu
Tuhan,
Ragu aku : tak bisa bersyukur dan berpaling darimu
Tuhan
galauku sungguh.

PALESTINA
Tidakkah kau melihat?
Mayat-mayat bergelimpangan
Anak-anak yang kehilangan ibunya
Sang Ayah yang menggendong mayat anaknya
Sang Ibu menjerit, “Bangun, Nak! Bangun!!”
dengan tangisnya yang memilukan,
memekakkan telinga bagi tiap insan yang mendengar
rintihan, jerit tangis mereka…
Tapi, Ah! Apa daya… Sang Anak hanya diam seribu bahasa,
Tubuhnya kaku, meregang nyawa…
Mereka telah terenggut oleh kejamnya peperangan
Dor! Dor! Dor!
Beribu kali suara tembakan yang maha dahsyat!
Blum! Blum! Blum!
Ledakan Bom meluluhlantakkan negeri mereka!
Lihat!
Para gadis dan janda di sana!
Jilbab-jilbab mereka dipaksa kaum Zionis
tuk ditanggalkan…
Biadab! Bajingan! Sungguh, betapa kejamnya peperangan
Mencabik-cabik ribuan nyawa… Mengoyak-oyak iman…
Agama menjadi taruhan…

GALAU BUNDA
Bunda menghilang
tak kunjung datang
pergi bersama luka yang
terus membayang
Bunda menanti
dalam gundah hati
ia tak peduli,
meski noda lalu melekat pada nurani
Bunda berdiri dalam penantian
hadirkan impian beserta angan
di balik hiruk pikuk kepalsuan
Bunda yakin secercah sinar
kan menghampiri jiwa yang galau gusar
sebab kasihnya selalu ada
di tiap langkah kehidupan…
(03 April 2008)

FAJAR MILIK IBU
Fajar menyapa hari
Fajar menyapu duri
yang jadi racun dalam sanubari
Fajar tak henti menengok, lalu belok
di tengah hamparan
sungai yang berkelok
Fajar tepati janji
hangatkan Ibu seusai subuh menghampiri
Fajar dalam genggaman,
tapi Ibu ragu
dalam sujud Ibu terpaku, membisu
berselimut jiwa yang kelu
(Januari 2008)

BELENGGU SANG DEWI MALAM
Picik nur mata, bertelekan riang
menutup hangar bingar kota
di atas ranjang mawar yang membusuk
seperti bangkai berserakan
Suka sejatinya duka
Rayu sejatinya pilu
tak peduli hitam nodai jiwa
pun tak peduli putih tertutup
oleh belenggu kalbu
Sayap-sayap nan elok tetap melekat pada tubuh-tubuh ramping
Sang Dewi Malam…
(16 Februari 2008)


GERIMIS
Gerimis bukanlah tangis
Gerimis bukan pula gemericik air
tapi ialah mendung,
pedih tiada ujung
di tiap relung-relung
jiwa yang murung.
(Desember 2007)

AJAL SI MBOK
Izrail di sandingku
Menatap Si Mbok dalam pembaringan
di sisi tabung oksigen, infus dan
komputer penghitung maut
‘ku tertunduk…
doa hati berkecamuk
batinku remuk
mengamuk
‘ku tinggalkan Si Mbok sendiri
menikmati sisa nyawa
Malaikat itu tak punya welas
Tak peduli merahku, sedu sedan meratap
Keesokan hari…
Sang Surya merangkul Si Mbok mencekik harapan
Akhir berita bersama angin hitam
Berbisik lirih, pahit, mengiris.
‘ku antarkan Si Mbok
bibir merah, mata berbinar-binar
tapi teriakku tertahan. Pilu.
di atas gundukan anyar nan semerbak…


PERMINTAAN
Dahulu sangsai jadikanku abu
Air mukaku kosong. Perih.
Lalu engkau semaikan lagi
beserta sekar-sekar yang tumbuh
di surau kecil hatimu
Tumpat saja nadimu dengan darahku
Pasang saja lentera pada
permadani hidup kita
Nyanyikan tembang pilihan
di atas bianglala
Masih tentatif, memang.
Tapi ini mauku.maumu.
Yakinku.yakinmu.
(270208)


SEPASANG MATA NILA
Nila lihat kelam
Nila lihat mendung legam
Nila lihat kabut pekat
Lihat Nila, lihat nyata
Nila lihat jadi nyata
Bukan. Bukan salah mata Nila
Ini takdir.
Itu takdir.
Ya. Takdir Tuhan
terlukis pada diri Nila
(Januari 2008)

BENCI
Benci ku dengan laut pasang
Benci ku dengan padang ilalang
yang menghalangi pandang
Benci ku dengan kerikil tajam
yang menghujam garang
Benci.Sepi.
Hilang ku nanar.
Penat ku akan pekat
yang membekas. Mencekat
Duri merobek sanubari
yang ingin bisu dan tuli
dari segala hiruk pikuk duniawi
Marah ku pada angin
yang tak bisa sampaikan benciku
(Maret 2008)


KEMILAU
Hilang.
Hangus.
Terbakar.
Tak ada warna hidup
yang terlukis di sana.
Hancur tak berbentuk.
Jiwaku remuk redam,
mati dalam kehampaan jiwa…
Sejenak terbangun,
Mencari kepingan
Mencari serpihan
Sungguh lelah…
tak berdaya…
Seperti daging,
Amat busuk.
Seperti ikan,
gosong di wajan penggorengan.
Ah!ku benci diriku
terpuruk dalam kenistaan…
Lalu terpaku…
Melihat kemilau begitu indah…
Selangkah demi selangkah, kudekati
Seketika nodaku terhapus
Kan ku jaga cahaya suci ini,
agar tak padam…
Ku pasrahkan jiwa raga ini,
Hanya kepada-Nya,
Allah, Tuhan yang ku cinta…
(Maret 2007)

MATAHARIKU
Matahariku telah pulang
Mencumbu ombak di kala senja
Indah,menantang
Bersama kuda pelana
Pasir pun ikut mengintip.
(170909)

Meja Biru
Waktu di tembok berdetak
Tuk.Tuk.Tik.Tik.tersentak
Kertas dan pena menyatu
Mengajakku berseteru
Lalu, ku ambil kursi
Seketika ada yang menari
di atas meja biru, seakan berduri
(070909)


SEKAR KELABU
Demi mereka yang sekarat
Hingga hati terkoyak, menyayat
Demi mereka yang sibuk
mengantar mayat-mayat remuk
Demi mereka yang hancur
luluh lantak: lebur
Jadi abu: bisu, kaku.
Dan, pilu…
Demi mereka yang menangis
karena orang-orang Zionis
Ku kirim seuntai sekar kelabu
dengan pita hitam
diiringi doa mengharu biru
sambut hari kelam
Untuk mereka di Gaza,
yang berderai air mata
berselimut angin duka
(01-01-09)


CINTA DAN SURAU
Bianglala semakin nakal
Mengendap-endap melewati
sekar-sekar yang tumbuh di surau
Seketika berbisik jiwa kita, lirih...
“Indah nian kasih...”
(01-11-09)

RANJANG MAWAR
(untuk kado pernikahan Winarsih)
Lampu temaram berkedip malu-malu
di keheningan malam lalu
Kasih mendesah syahdu
Dalam diam, ia tarik kainku satu satu
Nafas semakin mengaduh, mendayu

Ah...ranjang kita semakin berbunyi
Memainkan irama, menari-nari

Mawar kita menyala-nyala
Dalam remang bianglala
Ah...gembira meronta
(01-10-09)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar