KEHENDAK DAN PENDERITAAN TOKOH SANTIAGO DALAM NOVEL THE ALCHEMIST (SANG ALKEMIS) KARYA PAULO COELHO
(Pendekatan Filsafat Kehendak - Arthur Schopenhauer)
Oleh: Pramita Jaya E. T (072144004)/ SRN ‘07
Pengantar
The Alchemist (Sang Alkemis) - sebuah novel yang telah terjual lebih dari 43 juta copy di seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam 56 bahasa, karya Paulo Coelho (seorang pengarang kelahiran Brazil) ini - telah memberikan inspirasi bagi banyak bangsa di dunia. Paulo Coelho menggambarkan kehendak dan penderitaan tokoh utama (Santiago) secara folosofis. Berawal dari kehendak Santiago untuk berkelana hingga mengalami berbagai penderitaan dalam mencapai harta karunnya. Saya akan menganalisa kesemua itu dengan berlandaskan pada teori filsafat kehendak - Arthur Schopenhauer (seorang filsuf dari Danzig, Jerman Timur).
Isi
Schopenhauer menekankan bahwa manusia didorong oleh kehendak untuk hidup. Ingatan, badan, dan tabiat, semua itu ditentukan oleh kehendak sebagai “melodi dasar” hidup kita. Kehendak itu sangat kuat, semua fungsi badan membutuhkan istirahat dan tidur untuk melaksanakan tugas-tugas mereka. Hanya kehendak yang tidak pernah lelah. Kehendak tidak pernah tidur dan mengurus terus-menerus tugas jantung, paru-paru, dan seterusnya (Hamersma, 1992:60--61).
Menurut Schopenhauer, manusia menemukan di dalam dirinya bahwa kehendaklah yang menjadi daya pendorong, yang naik dari bagian tak sadar ke bagian sadar. Oleh karena itu kehendak adalah bagian hidup yang terdalam. Bagian hidup yang terdalam ini dapat menampilkan diri sebagai kehendak yang lebih tinggi dan kehendak yang lebih rendah. Kehendak tampil sebagai kehendak yang lebih tinggi di dalam pikiran, yang menjadi objek di dalam diri manusia, yang menyebabkan adanya gagasan-gagasan tentang dunia. Juga tubuh manusia dapat tampak sebagai gagasan, menjadi objek pandangan akal, menjadi objek di antara obyek-obyek yang lain. Kehendak tampil sebagai kehendak yang lebih rendahdi dalam perbuatan tubuh yang dapat diamati. Dalam hal ini perbuatan kehendak dan aktivitas tubuh bukan dua hal yang dihubungkan secara kausal (yang satu menyebabkan lain), sebab keduanya adalah sama, identik. Aktifitas tubuh tidak lain adalah perbuatan kehendak yang telah diperagakan, yang telah diobyektivir. Dengan demikian tubuh tidak lain adalah kehendak yang telah diobyektivir dalam ruang dan waktu. Kehendak itu mendorong pelayannya, ialah akal. Karena kehendak yang tidak disadari itulah manusia didorong untuk hidup. Kehendak ini sama sekali tidak dapat berubah dan mendasari segala gagasan kita. Ingatan kita juga hanya berfungsi sebagai pelayan kehendak. Kehendak tidak mengenal payah, karena kehendak terjadi tanpa kesadaran, seperti halnya jalannya jantung, pernapasan, juga tidak pernah payah. Demikianlah pada hakikatnya manusia adalah kehendak (Hadiwijono, 1911:107).
Sedangkan yang mendorong dua individu untuk kawin, itu kehendak hidup dari jenis. Cinta kasih itu hanya suatu alat dari alam untuk mempertahankan jenis-jenis agar keseimbangan dalam jenis terjamin secara optimal (Hamersma, 1992:61). Maka sebenarnya pusat kehendak berada di dalam genitalia, yaitu tempat nafsu seksual. Apa sebab dua orang yang berbeda jenisnya begitu tertarik yang seorang kepada yang lain? Tidak lain karena kehendak untuk hidup yang terjelma dalam jenisnya (Hadiwijono, 1911:107--108).
Jikalau dunia dipandang sebagai kehendak, maka hidup adalah penderitaan. Hal ini disebabkan karena kehendak tiada batasnya, sedang pemuasannya adalah terbatas. Akibatnya ialah bahwa manusia diserahkan kepada nafsu-nafsu dan keinginan-keinginan, sehingga tiada kebahagiaan pada manusia. Itulah sebabnya kenyataan hidup adalah penderitaan. Demikianlah dibelenggu oleh kehendaknya. Agar manusia dapat bahagia, ia harus membebaskan diri dari belenggu kehendaknya dan dari perbudakan kehendak perorangan. Hal ini memang mungkin, sebab manusia dapat menjadi pelaku atau subyek pengetahuan yang murni, tanpa dibelenggu oleh kehendaknya (Hadiwijono, 1911:108--109).
Kehendak itu tak terhingga, tetapi kemungkinan-kemungkinan untuk memuaskannya terbatas. Oleh karena itu hidup kita penuh frustasi. Kita tidak akan dapat ketenangan hati selama kita dikuasai oleh keinginan-keinginan dan nafsu-nafsu. Hidup adalah penderitaan terus-menerus. Dan, makin tinggi makhluk, makin besar penderitaannya (Hamersma, 1992:62).
Schopenhauer lebih berbicara tentang kehendak untuk lebih memahami diri atau individu. Schopenhauer berbicara tentang kehendak dalam hubungannya dengan tubuh. Tanpa tubuh, tak akan pernah ada kehendak. Tubuh mendahului kehendak dan kehendak ditempatkan sebagai manifestasi dari tubuh. Dan, segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak disebut derita (penderitaan). (http://musyawarahbuku.wordpress.com/2008/01/16/tentang-kehendak/)
Dapat disimpulkan bahwa manusia adalah kehendak itu sendiri yang memerintahkan akal sebagai pelayan kehendak – yang menyebabkan tubuh melakukan tindakan dan jika secara terus menerus menimbulkan penderitaan.
Kehendak-kehendak tokoh utama (Santiago) dalam novel The Alchemist (Sang Alkemis) dapat dilihat dari:
1. Dia menyadari, dia merasakan sesuatu yang belum pernah dialaminya: hasrat untuk menetap di suatu tempat, selama-lamanya. Bersama gadis berambut hitam kelam ini, hari-harinya takkan pernah sama lagi (Coelho, 2008:11).
2. Kehendak hidupnya adalah berkelana (Coelho, 2008:13).
3. Percakapan Santiago dengan ayahnya, “Tapi aku ingin melihat kastil-kastil di kota-kota asal mereka,” si anak lelaki menjelaskan (Coelho, 2008:15).
4. “Aku juga ingin melihat negeri mereka serta cara hidup mereka,“ sahut anaknya (Coelho, 2008:15).
5. “Kalau begitu, aku mau menjadi gembala saja.” (Coelho, 2008:15).
6. ….dia harus mempersiapkan diri untuk bertemu gadis ini; dia tidak mau membayangkan kemungkinan ada gembala lain – yang punya domba lebih banyak – tiba lebih dulu di sana dan meminang gadis itu (Coelho, 2008:17).
7. Yang membuat hidup ini menarik adalah mewujudkan impian menjadi kenyataa, pikirnya….(Lalu Santiago menemui perempuan di Tarifa: ingin menafsirkan mimpinya) (P. Coelho, 2008:17--22).
8. Percakapan Santiago dengan Melkisedek, Raja dari Salem: “Walaupun yang kuinginkan hanyalah berkelana? Atau menikah dengan putrid si saudagar kain?” (Coelho, 2008:30).
9. Dia harus memilih antara cara hidup yang telah begitu dikenalnya dan sesuatu yang ingin dimilikinya (Coelho, 2008:37).
10. Kemudian si anak lelaki mengatakan bahwa dia hendak pergi ke piramida-piramida itu.” (Coelho, 2008:48).
11. Dia teringat pagi tadi, ketika matahari terbit, dia masih menjadi anak gembala yang memiliki enam puluh ekor domba, dan hendak bertemu sorang gadis. (Coelho, 2008:52)
12. “Aku petualang yang hendak mencari harta karun,” (Coelho, 2008:56).
13. Semalam dia sudah memutuskan akan menjadi seperti tokoh-tokoh petualang yang dikaguminya di buku-buku.” (Coelho, 2008:57).
14. “Aku ingin secepatnya menjadi gembala lagi.” (Coelho, 2008:70).
15. Pernyataan bahwa Santiago masih ingin pergi mencari harta karunnya: Apa salahnya mencoba mendatangi gudang si pemasok, untuk mencari tahu apakah Piramida-Piramida itu memang jauh? (Coelho, 2008:85).
16. “Tapi aku hendak ke Mesir,” kata si anak (Santiago) (Coelho, 2008:91).
17. “Aku mencari harta karun,” kata si anak, yang segera menyesali ucapannya (Coelho, 2008:91).
18. Tapi ketika si anak hendak mempelajari cara mencapai Karya Agung, dia benar-benar bingung (Coelho, 2008:106).
19. Keesokan harinya anak itu kembali ke sumur tersebut, berharap bertemu lagi dengan gadis itu (Coelho, 2008:122).
20. “Aku ingin kau menjadi istriku. Aku mencintaimu.” (Coelho, 2008:123).
21. Anak itu datang ke sumur tiap hari untuk bertemu dengan Fatima (Coelho, 2008:124).
22. Si anak lelaki hendak meraih tangan Fatima (Coelho, 2008:125).
23. “Tapi aku akan mencari harta karunku,” kata si anak. “Dan sekarang aku sudah sangat dekat.” (Coelho, 2008:199).
24. Kehendak Santiago untuk menemui Fatima di akhir cerita: “Tunggu aku, Fatima,” katanya (Coelho, 2008:213).
Penderitaan-penderitaan yang dialami oleh Santiago dalam novel The Alchemist (Sang Alkemis) dapat dilihat dari:
1. Dia bukan lagi anak gembala, dan dia tidak punya apa-apa, tidak juga punya uang untuk pulang dan memulai hidup baru (Coelho, 2008:52).
2. Dia begitu malu, hingga ingin menangis.…..Dia menangis karena Tuhan begitu tidak adil, dan karena beginilah ganjaran Tuhan pada orang-orang yang meyakini impian-impian mereka (Coelho, 2008:52).
3. “Tapi sekarang aku sedih dan sendirian….sebab aku terlalu lemah dan tidak bakal bisa menaklukkan dunia.” (Coelho, 2008:53).
4. Saat ini dia berada di pasar yang kosong melompong, tanpa satu pun domba untuk dijaganya sepanjang malam (Coelho, 2008:54).
5. Santiago terpaksa bekerja di sebuah toko kristal karena ia sudah tidak punya uang sepeser pun: “Aku akan bekerja sepanjang malam, sampai subuh,….Sebagai imbalannya aku butuh uang untuk berangkat ke Mesir besok.” (Coelho, 2008:62).
6. Si anak lelaki merasa sedih ketika berpisah dengan Fatima pada hari itu (Coelho, 2008:127).
7. Dia cemas akan apa yang telah terjadi…..dan sekarang ada kemungkinan dia harus membayar dengan nyawanya. Pertaruhan yang menakutkan (Coelho, 2008:140).
8. Pertemuan Santiago dengan Sang Alkemis yang pada awalnya seperti berusaha membunuhnya: …dia menundukkan kepala, siap menerima tebasan pedang itu. Orang asing itu menarik pedangnya dari dahi si anak, dan anak itu merasa sangat lega. Tapi dia masih tetap tak sanggup melarikan diri (Coelho, 2008:142--143).
9. Meneruskan pencarian harta karun ini berarti dia harus meninggalkan Fatima.”Aku ingin tetap tinggal di Oasis itu,” sahut si anak. “Aku telah menemukan Fatima, dan bagiku dia lebih berharga daripada harta karun.” (Coelho, 2008:153).
10. Sulit untuk tidak memikirkan apa yang telah dia tinggalkan di belakang (Coelho, 2008:159).
11. …mereka sudah mendekati daerah yang dicabik-cabik pertempuran-pertempuran paling dahsyat. Bukan hal mudah; pada masa-masa awal dulu, hatinya selalu siap menyampaikan ceritanya, tapi akhir-akhir ini tidak lagi. “Tetapi hatiku gelisah,” kata si anak. “Hatiku menyimpan mimpi-mimpi, menjadi emosional, dan mendambakan seorang wanita gurun. Hatiku meminta banyak hal, dan membuatku tak bisa tidur bermalam-malam saat aku memikirkan wanita itu.” (Coelho, 2008:165).
12. “Hatiku takut menderita,” si anak berkata pada sang alkemis pada suatu malam, ketika mereka menatap langit tak berbulan (Coelho, 2008:167).
13. Mereka dibawa ke sebuah perkemahan militer yang tidak jauh dari sana. Seorang prajurit mendorong si anak dan sang alkemis ke dalam kemah tempat pimpinan pasukan sedang mengadakan pertemuan dengan para stafnya (Coelho, 2008:178).
14. “Kau memberikan segala harta milikku pada mereka!” kata si anak. “Seluruh harta yang telah kusimpan selama hidupku!”….Tapi anak itu terlalu takut dan tak bias menyerap kata-kata bijak itu (Coelho, 2008:181).
15. “Kalau aku tak bisa mengubah diriku menjadi angin, kita akan mati,” kata si anak (Coelho, 2008:183).
16. “Sedang apa kau di sini?” salah satu sosok itu bertanya. Karena ketakutan, si anak tidak menjawab. Dia telah menemukan harta karunnya, dan merasa takut membayangkan yang bakal terjadi (Coelho, 2008:207).
17. Mereka menyuruh anak itu terus menggali, tapi dia tidak menemukan apa-apa. Saat matahari terbit, orang-orang itu memukulinya. Dia babak belur dan berdarah-darah, pakaiannya koyak-koyak, dan dia merasa ajalnya sudah dekat……Anak itu terjerembab ke pasir, hampir-hampir tak sadarkan diri. Pimpinan kelompok itu mengguncang-guncang dan berkata, “Kami akan pergi.” (Coelho, 2008:208).
18. Kemarahan Santiago terhadap peramal di Tarifa: Rahib itu tertawa melihat ketika melihatku dating dengan pakaian compang-camping. Tidak bisakah kau menghindarkan aku dari nasib itu? (Coelho, 2008:211).
Santiago telah meninggalkan keluarganya hanya demi satu kehendak: berkelana. Akalnya berpikir untuk menjadi anak gembala (melayani kehendaknya). Maka tubuhnya melakukan (bertindak): membeli domba-domba dan mulai berkelana ke mana saja.
Santiago berkehendak: ingin menemui seorang gadis (anak penjual kain di Tarifa). Akalnya berpikir: bagaimana caranya untuk menarik hati si gadis. Maka tubuhnya mengambil tindakan: bercukur (mempersiapkan diri agar tampak rapi di depan si gadis).
Santiago mendapatkan mimpi dua kali yang serupa. Maka muncullah kehendak: ingin menafsirkan mimpinya. Akalnya berpikir untuk menemui seorang perempuan di Tarifa-yang dikenal sebagai peramal handal. Maka tubuhnya melakukan tindakan: pergi ke Tarifa dan menanyakan perihal mimpinya kepada perempuan itu.
Ketika Santiago berkehendak: menikahi Fatima, akalnya berpikir bagaimana cara mewujudkannya, tentu agar dia lebih dekat dengan Fatima. Maka tubuhnya bertindak: sering menemui Fatima di sebuah sumur di oasis dan menceritakan banyak hal tentang dirinya kepada perempuan yang dicintainya itu. Ia juga menyatakan cintanya kepada Fatima. Inilah yang dimaksud oleh Schopenhauer: dorongan dua individu untuk kawin, itu kehendak hidup dari jenis.
Kehendak Santiago untuk menemukan harta karunnya di Piramida-Piramida di Mesir mendapatkan banyak tantangan dan rintangan. Sampai-sampai akalnya banyak memikirkan hal-hal yang membuatnya selalu bimbang: tetap menjadi gembala saja atau harus menemukan harta karunnya.
Setelah ia mengalami penderitaan (sampai-sampai ia menangis dan menganggap bahwa Tuhan tidak adil): seluruh uang di kantongnya dicuri oleh seorang pemuda Arab di Afrika, akal Santiago berpikir bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan uang kembali untuk memutuskan: ia kembali menjadi gembala saja atau harus berusaha terus untuk mencari harta karunnya. Lalu tubuhnya bertindak: bekerja di sebuah toko kristal.
Ketika Santiago merasa mendapatkan petanda bahwa akan ada bahaya di Oasis, banyak orang-orang yang meragukannya karena menurut tradisi, Oasis adalah tempat aman (peperangan tidak boleh dilakukan di Oasis). Maka ia harus bertaruh nyawa: jika dugaannya benar, ia akan memperoleh emas dan jika salah, ia harus mati ditembak sebagai hukuman. Ia cemas akan peristiwa yang terjadi di Oasis. Kecemasan Santiago ini adalah penderitaannya. Ketakutan Santiago terhadap orang asing yang ditemuinya (sang alkemis)-yang pada awalnya seperti berusaha membunuhnya juga menimbulkan panderitaan baginya.
Santiago takut menderita, ia takut gagal mendapatkan harta karunnya sebab ia telah meninggalkan Fatima (perempuan yang dicintainya) demi perjuangan mendapatkan harta karunnya itu. Hal ini membuat ia selalu gelisah dan tidak bisa tidur. Lalu ia bertemu tentara parang dan dibawa ke sebuah perkemahan militer. Di sana, san alkemis memberikan segala harta milik Santiago kepada para tentara itu untuk mendapatkan waktu hidup selama tiga hari sampai ia bisa menunjukkan kemampuannya: mengubah dirinya menjadi angin. Maka penderitaan Santiago semakin bertambah seiring dengan kuatnya kehendaknya mencapai harta karunnya.
Santiago babak belur dan merasa ajalnya sudah dekat, ia hampir-hampir tak sadarkan diri setelah para pemuda menyuruhnya menggali pasir dekat Piramida-Piramida, tetapi ia tidak menemukan apa-apa. Lalu mereka merampok emas-emas di tasnya (yang ia dapatkan dari sang alkemis). Ia merasa dipermainkan oleh peramal di Tarifa: sebab ia tahu bahwa harta karunnya berada di tempat ia menghabiskan waktunya bersama domba-dombanya dahulu. Penderitaannya bertambah ketika ia harus kembali ke gereja untuk menemui Rahib dan mengambil emas (agar ia bisa kembali pulang ke Andalusia dan menemukan harta karunnya) dengan pakaian compang-camping dan ditertawakan oleh Rahib itu.
Dalam novel ini juga ada pernyataan yang menunjukkan adanya hubungan antara kehendak dan penderitaan, yaitu: “Sementara itu, si anak lelaki memikirkan harta karunnya. Semakin dekat dia pada perwujudan impiannya, semakin sulit situasi-situasi yang dihadapinya…Dalam usahanya mengejar impian itu, ada-ada saja cobaan yang dialaminya, untuk menguji keteguhan hati serta keberaniannya.” (Coelho, 2008:115).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa “semakin tinggi pohon, maka semakin kencang angin yang bertiup menerpanya…” Semakin tinggi kehendak Santiago untuk menemukan harta karunnya, maka semakin banyak penderitaan-penderitaan yang di alaminya. Santiago telah memandang hidup sebagai kehendak, maka hidupnya adalah penderitaan. Hal ini disebabkan karena kehendak Santiago tiada batasnya, sedang pemuasannya adalah terbatas. Akibatnya ialah Santiago diserahkan kepada nafsu-nafsu dan keinginan-keinginan, sehingga tiada kebahagiaan pada dirinyaa. Itulah sebabnya kenyataan hidupnya adalah penderitaan. Santiago telah dibelenggu dan diperbudak kehendak perorangan (dirinya sendiri). Mulai dari keinginannya untuk berkelana dan mencari harta karun hingga nafsu cintanya (gelisah karena merindukan Fatima, berharap bisa meraih tangannya dan mendapat ciumannya meskipun hanya melalui angin, dan menikahi Fatima).
Kehendak itu tak terhingga, tetapi kemungkina-kemungkinan untuk memuaskannya terbatas. Oleh karena itu hidup kita penuh frustasi. Kita tidak akan dapat ketenangan hati selama kita dikuasai oleh keinginan-keinginan dan nafsu-nafsu.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan:
Manusia=Kehendak Pelayan Kehendak:Akal
Tubuh Bertindak
Santiago
Kehendak: Penderitaan:
1. Berkelana. 1. Uangnya dicuri oleh pemuda Arab.
2. Menemui seorang gadis di Tarifa. 2. Bertaruh nyawa di Oasis, cemas dan
3. Menafsirkan mimpinya. takut gagal, ditawan oleh tentara.
4. Memperoleh harta karun. 3. Berpisah dan meninggalkan Fatima
5. Bertemu dan menikahi Fatima. 4. Dirampok oleh pemuda di dekat
Piramida, ditertawakan oleh Rahib.
moga bermanfaat
BalasHapus